A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
  A N E K A
 ► Ratu Dunia
 ► Tokoh Dunia
 ► Penemu
 ► Hadiah Nobel
  B E R A N D A
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 16042006  
   
  ► e-ti/  
  Nama:
Lee Kuan Yew
Lahir:
Singapura, l6 September l923,
Jabatan:
Perdama Menteri Singapura

 
 
     
 
LEE KUAN YEW HOME

 

Lee Kuan Yew

Masa Mudanya Penuh Derita


Tanggal l6 September l998, penduduk Singapura antre untuk membeli buku The Singapore Story, Memoirs of Lee Kuan Yew. Jilid I riwayat menteri senior dan bekas perdana menteri mereka itu diterbitkan bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-75. Di antara orang asing yang dimintai pendapat sebelum buku ini diterbitkan terdapat mantan Menkeu RI Ali Wardhana, mantan Menlu Mochtar Kusumaatmadja, dan Menko Wasbang Hartarto.

Saya lahir di Singapura pada l6 September l923, di 92 Kampong Java Road. Ibu saya, Chua Jim Neo, waktu itu berumur l6 tahun. Ayah saya, Lee Chin Koon, 20 tahun. Orang tua mereka menjodohkan mereka setahun sebelumnya.
Ayah saya dibesarkan sebagai anak orang berada. Ia bersekolah di St. Joseph's Institution yang berbahasa Inggris. Seumur hidupnya ia menyesal tidak melanjutkan sekolah setelah lulus SD. Dengan pendidikannya itu ayah saya hanya bisa menjadi pelayan toko di perusahaan minyak Shell ketika harta keluarganya amblas ditelan depresi ekonomi.

Saya mempunyai tiga adik laki-laki dan seorang adik perempuan. Karena mereka lebih muda, saya lebih sering bermain dengan anak-anak nelayan Cina dan Melayu yang tinggal di kampung seberang rumah kakek saya.

Kami mengadu layang-layang, gasing, kelereng dan bahkan ikan cupang. Permainan ini memupuk semangat bertarung dan keinginan untuk menang. Saya tidak tahu apakah ada pengaruhnya dalam menghadapi pertarungan politik kemudian.

Sebagai kanak-kanak saya tidak memiliki pakaian atau sepatu yang modis seperti cucu-cucu saya sekarang. Kami tidak miskin, tetapi tidak memiliki permainan yang berlebihan.

Kami banyak membaca. Pengaruhnya baik terhadap kemampuan bahasa kami. Saya membeli buku-buku murah dan sangat menantikan kedatangan kapal yang membawa majalah-majalah dari Inggris. Setelah agak besar sedikit, saya memanfaatkan Raffles Library.

Berkat pengorbanan ibu
Namun, hidup tidak selalu menyenangkan. Kadang-kadang ayah saya marah-marah sepulang berjudi. Ia meminta perhiasan ibu saya untuk digadaikan, agar ia bisa mengadu untung kembali. Namun, ibu saya dengan gigih mempertahankan perhiasannya yang merupakan hadiah dari orang tuanya saat ia menikah, demi masa depan anak-anaknya.

Ibu saya berwatak kuat, memiliki banyak energi dan panjang akal. Ia mengabdikan hidupnya untuk anak-anaknya agar mereka bisa mendapat pendidikan yang baik dan menjadi profesional yang mandiri. Adik-adik saya dan saya berusaha untuk memenuhi harapannya.

Ketika saya berangkat dewasa, ia mulai meminta saran-saran saya perihal masalah keluarga yang penting-penting, sehingga ketika berumur belasan tahun, praktis saya sudah menjadi kepala keluarga. Inilah yang mengajar saya untuk membuat keputusan.

Umur saya belum enam tahun, waktu nenek saya dari pihak ibu bersikeras memasukkan saya ke sekolah anak-anak nelayan di dekat rumah kami. Sekolah itu beratap daun kelapa, lantainya lempung. Kelasnya cuma satu.


Lee bersama ayahnya. (Repro: Time)
Kami diharuskan meniru guru mengulangi kata-kata Cina tanpa memahami artinya. Kalaupun ia menjelaskan, saya tidak paham.

Dua atau tiga bulan kemudian ibu saya mengabulkan keinginan saya untuk pindah ke sekolah berbahasa Inggris di Teluk Kurau. Di sini saya memperoleh kemajuan tanpa harus bersusah-payah.

Tahun l935 saya lulus dengan menduduki peringkat pertama sehingga bisa diterima di Raffles Institution. Saya senang bersekolah di sini dan aktif dalam kepanduan, bermain kriket, tenis, berenang serta ikut kegiatan debat. Namun, saya tidak pernah menjadi prefect (pemimpin pelajar) karena saya jail.

Di kelas sering saya tertangkap basah sedang menulis kata-kata iseng untuk disampaikan pada teman-teman atau meniru gerak-gerik guru. Pernah saya kepergok sedang menggambar kepala botak guru IPA yang galak.

Kepala sekolah kami, D.W. McLeod, adalah pendidik yang adil dan keras menegakkan disiplin. Siswa yang dalam satu tahun ajaran datang terlambat tiga kali akan dipukul pantatnya dengan rotan tiga kali.

Saya termasuk orang yang kuat begadang, dengan akibat bangun siang. Ketika tahun l938 saya terlambat untuk ketiga kalinya, saya tidak luput dari hukuman itu, walaupun Pak McLeod tahu jumlah penghargaan yang saya kumpulkan dan beasiswa yang saya peroleh berulang-ulang.

Saya heran mengapa para pendidik Barat begitu menentang hukuman badan. Bagi rekan-rekan saya dan saya sendiri, hukuman itu terbukti tidak ada buruknya.

Jadi relawan
Pada 8 Desember l941 subuh, Jepang datang menjatuhkan bom pertama mereka di Singapura. Enam puluh nyawa melayang dan l30 orang cedera. Dua hari Malaya juga dibom.

Kemudian pengajaran ditiadakan dan kami meninggalkan asrama. Saya menjadi relawan di unit kesehatan sekolah, Medical Auxiliary Unit (MAS).

Bulan Januari Jepang membomi Singapura siang malam. Korban pertama yang kami tolong adalah mangsa bom dekat kantor polisi di sebuah desa di Bukit Timah. Mengerikan sekali menyaksikan orang-orang bersimbah darah, cedera, dan tewas.

Paginya semua pasukan Inggris ditarik dari Johor ke Singapura. Singapura dikepung. Tembak menembak makin dekat ke kota, sehingga keluarga kami yang tinggal di Norfolk Road mengungsi ke rumah kakek dari pihak ibu di Teluk Kurau.

Saya tetap tinggal di Norfolk Road ditemani tukang kebun kami, Koh Teong Koo yang merangkap sebagai penarik rickshaw.

Sebenarnya, keluarga kami sudah membangun lubang perlindungan di bawah tanah di Norfolk Road. Di lubang yang dilapisi kayu itu ibu saya menyediakan beras, garam, kecap, ikan asin, makanan kaleng, susu kental manis dsb. untuk keperluan jangka panjang. Uang bukan masalah, sebab perusahaan minyak Shell Co. memberi ayah saya gaji untuk beberapa bulan sekaligus ketika ia diperintahkan mengevakuasi depot minyak di Batu Pahat.


Lee (tengah) bersama orang tua dan saudara menjelang keberangkatannya ke Inggris.
Militer mengambil alih sekolah kami tanggal l0 Februari dan dua hari kemudian unit MAS kami dibubarkan. Ketika bunyi tembakan makin mendekat, saya menyusul keluarga saya ke Teluk Kurau. Keesokan harinya saya bertemu dengan tentara Jepang di dekat kampung tempat saya dulu bermain dengan anak-anak nelayan.

Tubuh mereka pendek. Mereka menyandang bedil panjang dengan bayonet terhunus. Baunya bukan main. Pasti karena dua bulan bertempur di hutan-hutan Malaya sampai Singapura tanpa mandi dan mencuci pakaian.
Saya takut setengah mati, tetapi mereka tidak mempedulikan saya, sebab yang mereka cari adalah tentara. Kami segera menutup pintu-pintu dan jendela-jendela. Soalnya, kami dengar tentara Jepang menyiksa dan memperkosa penduduk di daratan Cina.

Tersiar kabar-kabar pasukan Inggris sudah menyerah. Keesokan harinya teman-teman yang kembali dari kota menceritakan bahwa rumah-rumah orang Eropa dijarah oleh supir dan tukang kebun mereka sendiri. Kami menjadi waswas. Bagaimana nasib rumah kami?

Dengan izin ibu saya, saya mengajak tukang kebun kami, Teong Koo, menjenguk rumah kami. Kami berjalan kaki sekitar l2 km. Kami melihat penjarah-penjarah Cina dan Melayu sedang mengangkuti barang-barang jarahan mereka.

Pada awal kedatangannya, orang-orang Jepang pun menjarah. Mereka mengambili sepeda, tapi kemudian mereka cuma mengambil benda-benda kecil yang berharga, sebab benda-benda besar tidak bisa mereka bawa ke tujuan berikutnya yaitu Jawa dan pulau-pulau lain.

Lolos dari maut
Saya pertama kali ketanggor serdadu Jepang di seberang Red Bridge. Beberapa tentara Jepang yang berjaga di jembatan berteriak "Kore, kore!" sambil memberi isyarat agar saya menghampiri. Seorang di antaranya menusukkan bayonet ke topi saya dan mencampakkannya. Saya ditampar dan diberi isyarat agar berlutut. Lalu ia menendang dada saya dengan sepatu boot-nya sampai saya terkapar di jalan.

Perlakuan yang saya dapat itu masih mending dibandingkan dengan yang dialami orang-orang lain. Padahal kami cuma tidak tahu kalau mesti membungkuk kepada serdadu Jepang yang berjaga di perempatan jalan atau jembatan.

Hari itu juga beberapa serdadu Jepang dan seorang perwiranya datang ke rumah kami di Norfolk Road. Setelah memeriksa seluruh rumah, mereka memutuskan akan menempatkan satu peleton di situ. Tentu saja saya risau.


Diam-diam menikahi Kwa Geok Choo
Saya pernah dirawat oleh dokter gigi Jepang dan perawat-perawat mereka di Bras Basah Road. Mereka sangat pembersih dan rapi. Demikian juga para pedagang Jepang di toko-toko murah meriah di Middle Road. Namun, serdadu-serdadu Jepang ini baunya tidak tertahankan.
Mereka menjarah makanan ibu saya di lubang perlindungan. Mereka menyatakan keinginan-keinginannya dengan bahasa isyarat. Kalau saya tidak paham atau lambat mengerti, saya dicaci-maki dan sering ditampar. Rasanya seperti hidup di neraka. Mereka meninggalkan rumah kami tiga hari kemudian.

Tak lama setelah tentara Jepang meninggalkan rumah kami, tersiar berita bahwa orang-orang Cina harus mendaftarkan diri di stadion Jalan Besar. Karena khawatir dihukum kempetai (polisi militer Jepang) kalau tidak taat, bersama Teong Koo saya menuju ke Jalan Besar.
Kamar sewaan Teong Koo berada di penginapan para penarik rickshaw. Ternyata daerah itu sudah dipagari kawat berduri. Puluhan ribu keluarga Cina tinggal bersesak-sesak di sini. Semua jalan keluarnya dijaga kempetai.

Setelah menginap semalam di kamar Teong Koo, saya berniat keluar dari kawasan itu, tetapi tidak diperbolehkan oleh serdadu penjaga pintu. Saya malah disuruh bergabung dengan sejumlah pemuda Cina. Saya mendapat firasat buruk. Jadi, saya pura-pura mau mengambil barang-barang saya dulu.

Saya kembali ke kamar Teong Koo dan bersembunyi di sana satu setengah hari. Setelah itu saya mencoba lagi keluar. Entah mengapa, sekali ini saya berhasil. Lengan kiri atas saya dan bagian depan kemeja saya dicap dengan aksara kanji "jian", artinya "sudah diperiksa".

Kemudian saya dengar bahwa orang-orang yang dicomot secara acak dari pintu keluar yang saya lalui, diangkut ke pantai dekat Penjara Changi. Jumlah mereka 40 - 50 truk. Di situ, dalam keadaan terikat dengan yang lain, mereka dipaksa berjalan ke laut sambil diberondong senapan mesin. Jenazah mereka dibiarkan terombang-ambing air laut.

Jepang membantai orang-orang yang diambil secara acak itu karena penduduk Cina Singapura pernah mengumpulkan dana untuk membantu negeri Cina saat diserbu Jepang dan juga pernah memboikot barang-barang Jepang.

Penjarah dipancung
Mula-mula ayah saya tidak bekerja dan kami tidak bersekolah. Kami selalu merasa terancam dan sedapat-dapatnya tinggal saja di rumah, menghindari kontak dan konflik dengan penguasa.

Saya pernah melihat segerombolan manusia merubung kepala seorang Cina yang ditaruh di atas tiang di depan bioskop Cathay. Di situ tertulis dalam aksara Cina bahwa orang itu dipancung karena menjarah. Orang-orang yang berani melanggar hukum akan mengalami nasib yang sama. Pencurian memang lantas lenyap.

Akhir l943 saya membaca iklan yang dipasang departemen penerangan atau lebih tepat departemen propaganda Jepang, Hodobu, di Syonan Shimbun. Mereka membutuhkan redaktur-redaktur yang menguasai bahasa Inggris. Saya melamar dan diterima. Kantornya di Cathay Building.

Pekerjaan saya adalah membaca berita-berita yang dikirim lewat kawat oleh kantor-kantor berita Sekutu seperti Reuters, UP, AP, Central News Agency of China, dan TASS. Berita-berita itu ditulis dengan sandi Morse dan ditangkap oleh operator-operator radio Melayu.

Saya harus "menerjemahkan" sandi itu dan mengisi kata-kata yang hilang dengan mengandalkan konteks. Berita dari pelbagai medan perang itu kemudian dirangkum dan dikirim ke lantai bawah. Di sini, rangkuman itu direkayasa oleh Jepang dan disiarkan.


W.S. Tatcher (tengah) yang membantu Lee dan Choo masuk Cambridge.
Kerja saya dimulai pukul 19.00 waktu Tokyo atau pukul 17.30 waktu Singapura.

Menjelang akhir tahun l943 bahan makanan makin langka. Makanan sudah bulukan pun masih kami makan. Kami menjadi kurus-kurus. Ibu saya, seperti banyak orang lain, berusaha mencukupi tuntutan perut kami sedapat-dapatnya. Beras dicampur dengan jewawut dan jagung.

Kami juga makan makanan yang belum pernah kami makan, seperti pucuk ubi atau singkong yang dimasak dengan santan. Makanan pengganti itu terasa enak juga tetapi gizinya rendah. Baru sejam makan adik-adik saya yang laki-laki dan saya sudah kelaparan lagi.

Daging sapi dan kambing sulit didapat. Daging babi lebih mudah. Sebetulnya kami bisa memelihara ayam sendiri, tapi harus diberi makan apa? Makanan kami tidak pernah bersisa.

Sementara itu inflasi meningkat terus. Pertengahan l944 sudah tidak mungkin lagi hidup dari gabungan gaji ayah saya, adik saya Dennis dan saya. Ibu saya membuat kue-kue yang laku dijual dengan bahan seadanya.

Akhir l943 itu mobil orang sipil sudah tidak kelihatan. Bensin tidak ada. Taksi dijalankan dengan arang dan kayu bakar. Sepeda pun memakai ban mati. Karena tekstil langka, kami memakai kain tirai untuk membuat celana dan kemeja.

Gara-gara lem
Lebih mudah dan lebih banyak hasilnya bekerja sebagai makelar di pasar gelap. Pusatnya di High Street dan Chulia Street. Akhirnya, saya pun menyambi sebagai makelar. Saya belajar membeli perhiasan lalu menyimpannya sebelum dijual lagi pada saat harganya sudah jauh lebih tinggi.

Kunci dari mempertahankan hidup adalah improvisasi. Saya ditanyai oleh Basrai Brothers, pengusaha alat-alat tulis di Chulia Street, apakah saya bisa membuat perekat. Mereka memerlukannya. Ketika bertemu dengan Yong Nyuk Lin, lulusan Raffles College jurusan sains, saya tanyakan kepadanya apakah ia bisa membuat lem. Bisa, katanya. Saya pun mendanai percobaannya.

Lem kami penampilan dan baunya seperti karamel. Lem dari tepung kanji itu dimasak dalam tabung yang direndam dalam minyak kelapa mendidih. Setelah jadi, diberi karbol untuk mencegah bulukan, lalu dituang ke botol-botol bekas minyak ikan dan dipasarkan dengan nama "Stikfas". Untungnya lumayan.

Kami membuatnya di dua tempat: di rumah saya dan di rumah Nyuk Lin. Saya dibantu ibu dan adik perempuan saya. Nyuk Lin dibantu istri dan adik istrinya, Kwa Geok Choo, satu-satunya siswa Raffles College yang prestasinya melebihi saya.

Ketika pertama kali datang dengan mengendarai sepeda saya yang berban mati ke flat Nyuk Lin di Tiong Bahru, saya melihat Geok Choo sedang duduk di beranda. Ia sedang menganggur. Di rumah ia mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena tidak ada pembantu. Membuat lem mendatangkan uang saku baginya.

Kunjungan-kunjungan saya untuk mengecek produksi menyebabkan kami berkawan. September l944, pada ulang tahun saya yang ke-21, saya mengundang Nyuk Lin, istrinya dan Geok Choo (yang kini sudah saya panggil Choo saja) untuk makan di restoran Cina di Great World.

Inilah pertama kalinya saya mengajak Choo berkencan, walaupun dikawal oleh iparnya. Di Singapura masa itu, bukan tidak ada maknanya jika seorang gadis menerima undangan makan malam dari seorang pemuda yang berulang tahun ke-21.

Akhir l944, Jepang sudah keteter dalam perang. Jarang sekali ada kapal dagang datang, sehingga perdagangan mati. Kantor-kantor pun tidak memerlukan lagi lem. Kami berhenti membuat lem, tapi saya tetap datang menjenguk Choo di Tiong Bahru.

Diteror
Saya yakin, Inggris akan merebut Singapura kembali lewat jazirah Malaya. Saya khawatir akan terjadi pertumpahan darah di kalangan penduduk sipil. Lebih baik keluar dari Singapura sebelum Inggris tiba di Malaya. Saya pun mengajukan permintaan berhenti dari Hodobu.

Sebulan kemudian, sehari sebelum saya berhenti bekerja, petugas yang melayani lift membisikkan agar saya berhati-hati. Katanya, berkas tentang saya sedang dipelajari di kempetai. Saya merinding. Saya bertanya-tanya apa sebabnya dan bersiap-siap untuk diinterogasi.

Mulai saat itu tidak peduli siang maupun malam, selalu ada orang, sedikitnya dua, yang nongkrong di depan ruko di Victoria Street, tempat kami tinggal setelah pindah dari Norfolk Road. Mereka mengikuti saya kalau saya bepergian.

Satu-satunya kemungkinan adalah ada orang yang mengadu kepada kempetai, memfitnah saya pro Inggris dan membocorkan berita-berita kekalahan Jepang di medan perang.

Kadang-kadang, pukul 02.00 atau 03.00 pagi sebuah mobil berhenti dekat rumah kami. Sulit menjelaskan betapa takutnya saya dijemput mereka. Kekejaman kempetai sudah terkenal. Penguntitan itu berlangsung dua bulan. Gara-gara hal itu kami batal mengungsi.

Tanggal l5 Agustus, lewat radio, Kaisar Jepang mengaku takluk kepada Sekutu. Tiga setengah tahun pendudukan Jepang merupakan masa yang paling penting dalam hidup saya. Masa itu membuat saya memahami perilaku manusia dan masyarakat. Orang Jepang menuntut dan memperoleh ketaatan. Hukuman begitu beratnya sampai tidak ada yang berani berbuat kriminal.

Kini pendudukan Jepang yang menyengsarakan sudah berlalu. Rakyat yakin beras, buah-buhan, sayur-mayur, daging, dan makanan kaleng akan mengalir lagi. Namun, awal l946 kami insaf bahwa Singapura yang dulu, yang damai, stabil, bebas, dan santai tidak kembali.

Kota dipenuhi tentara Sekutu yang memadati kafe, bar, dan kabaret yang bermunculan. Perusahaan-perusahaan dagang lama belum bisa memulai kegiatan mereka karena karyawan-karyawan Inggris sudah tewas atau masih memulihkan kesehatan mereka. Kedatangan kapal-kapal tidak menentu dan barang-barang menjadi langka, termasuk di Inggris. Tampaknya, masih bertahun-tahun lagi keadaan pulih.

Raffles College masih belum dibuka. Akhirnya, ibu saya dan saya memutuskan, saya akan belajar ilmu hukum ke Inggris dengan dibiayai oleh tabungan ibu saya ditambah hasil penjualan perhiasannya, ditambah uang saya sendiri dan sokongan keluarga. Adik saya, Dennis, akan ke Inggris juga.

Pangeran bersepeda ban mati
Akhir l945 saya berhasil menemukan pekerjaan sementara untuk Choo di Raffles Library. Saya biasa mengantarnya pulang. Kadang-kadang kami duduk-duduk dulu di Taman Chesed-El Synagogue yang sunyi di Oxley Rise.

Pada malam Tahun Baru saya mengajak Choo ke pesta untuk kawula muda di Mandalay Villa di Amber Road. Di sana saya membawanya ke halaman yang menghadap ke laut dan memberi tahu dia bahwa saya tidak akan meneruskan belajar di Raffles College, tapi akan ke Inggris untuk belajar ilmu hukum. Saya bertanya apakah ia mau menunggu saya selama tiga tahun.
Choo bertanya apakah saya tahu bahwa ia dua setengah tahun lebih tua dari saya. Saya jawab bahwa saya tahu dan sudah mempertimbangkannya masak-masak. Saya lebih matang dari umur saya dan kebanyakan teman saya lebih tua dari saya.

Lagi pula saya ingin pasangan yang setara, bukan gadis yang belum matang, yang sangat tergantung kepada saya. Rasanya, saya tidak mungkin menemukan gadis lain yang bisa setara dalam berdiskusi dan yang memiliki minat yang sama. Choo menjawab, ia akan menunggu.

Kami tidak memberitahu orang tua kami. Soalnya, kami kira mereka tidak akan menyetujui perjanjian jangka panjang itu.

Sebelum saya berlayar ke Inggris, ibu saya sebetulnya berusaha menjodohkan saya dengan gadis Cina. Soalnya, ia khawatir kelak saya pulang membawa istri Inggris.

Tiga kali ibu memperkenalkan saya kepada gadis baik-baik dari keluarga baik-baik pula, tetapi ketiga-tiganya tidak membangkitkan minat saya. Saya bahagia dengan Choo. Akhirnya, saya berterus-terang kepada ibu. Ibu bisa menerimanya. Sikapnya pada Choo menjadi hangat dan bersahabat sebagai layaknya calon mertua.

Ayah Choo, Kwa Siew Tee adalah bankir pada Chinese Banking Corporation. Ia Cina kelahiran Jawa seperti ayah saya dan nenek saya dari pihak ayah. Ibunya seperti ibu saya adalah Cina kelahiran lokal. Jadi latar belakang kami, bahasa yang kami pergunakan di rumah dan norma-norma sosial yang kami anut sama.

Sebelum masuk Raffles College, Choo belajar di Methodist Girls' School. Karena ia lulusan terbaik dari ujian Senior Cambridge pada umur baru l6 tahun, ia dimasukkan ke kelas khusus di Raffles College, untuk bersaing merebut Queen's scholarship. Namun, ia tidak berhasil mendapat beasiswa itu.

Ayahnya termasuk berada, sehingga sebelum perang Choo ke mana-mana diantar dengan mobil. Di zaman Jepang, Choo terkungkung di flat dan menanti-nantikan Pangeran Idaman. Ternyata Pangeran Idamannya datang bukan berkuda putih, melainkan menunggang sepeda berban mati!

Sebelum saya berangkat, kami meminta sepupu saya, Harold Liem, untuk memotret kami berdua selama beberapa hari berturut-turut. Kami sedang jatuh cinta dan ingin mempunyai sesuatu untuk saling mengenang selama berpisah.

Kami berharap Choo bisa kembali masuk ke Raffles College untuk memenangkan beasiswa Queen's, supaya bisa menyusul saya ke Inggris dan belajar hukum pula.

Ketika saya meninggalkan Inggris pada hari ulang tahun saya yang ke-23, Choo menangis. Begitu pula saya.

Pindah ke Cambridge
Di London saya menderita guncangan budaya. Semuanya asing bagi saya, kecuali bahasanya. Di rumah semua keperluan saya diurus oleh keluarga saya. Di sini selain harus mengurus diri sendiri, waktu dan tenaga saya terkuras untuk pergi dari satu lokasi kuliah ke lokasi lain yang berjauhan, dengan berjalan, naik bus, dan kereta api. Akibatnya, tidak ada energi lagi untuk belajar atau merenung.

Dari seorang dosen, saya tahu bahwa Cambridge jauh lebih tenang. Saya tertarik dan November l946 pergi ke sana. Saya bertemu dengan mantan siswa Raffles College, Cecil Wong, yang sudah masuk di Fitzwilliam House, yaitu lembaga untuk siswa-siswa yang kurang berada di Cambridge. Bayarannya lebih murah. Cecil membawa saya menemui pemimpin dari Fitzwilliam, yaitu William S. Thatcher. Thatcher bersimpati kepada saya dan menawarkan saya belajar di Cambridge tanpa harus mengulang semester yang sudah saya jalani di London.

Mata kuliah yang saya dapat di London tidak semuanya sama dengan di Cambridge. Untunglah, Yong Pung How (Ia menjadi Hakim Agung di Singapura tahun l990) dari Kualalumpur mau meminjamkan catatannya kepada saya.

Saya bilang kepada Thatcher, saya akan belajar segiat mungkin supaya bisa lulus dengan peringkat First Class. Thatcher memperingatkan agar saya tidak kecewa kalau hal itu tidak tercapai karena tuntutan Oxford dan Cambridge ekstra tinggi.

Saya mulai kuliah di sana awal Januari l947. Cambridge ternyata melegakan. Mobil, bus, dan truk cuma sedikit. Bahkan W.S. Thatcher pun bersepeda. Saya membeli sepeda bekas seharga 8 ponsterling. Untuk berolahraga, saya masuk Boat Club, klub dayung, tetapi meninggalkannya tidak lama kemudian.

Akhir Juni, Choo menulis bahwa ia mendapat ijazah Class I dari Raffles College. Akhir Juli datang telegram yang lebih menggembirakan lagi. Choo mendapat beasiswa Queen's untuk belajar di Inggris, tapi pemerintah jajahan tidak bisa menemukan universitas yang tahun akademisnya dimulai Oktober l947. Ia mesti menunggu sampai l948.

Lewat W.S. Thatcher saya bisa bertemu Miss Butler, kepala dari Girton, yaitu college untuk wanita di Cambridge. Saya ceritakan kepadanya perihal teman saya, Nona Kwa yang cerdas sekali, lebih cerdas dari saya, sehingga sering menduduki peringat di atas saya saat di Raffles College. Miss Butler pasti merasa geli karena saya begitu bersemangat memuji pacar, tetapi rupanya tergugah. Hari itu juga saya menelegram Choo untuk memberi tahu ia diterima di Girton.

Akhir Agustus l947 Choo menumpang kapal tentara dari Singapura. Saya menunggunya dengan tidak sabar pada awal Oktober di pelabuhan Liverpool.

Setelah beberapa minggu menyesuaikan diri, Choo bilang bahwa saya berubah. Saya bukan lagi orang yang periang, yang optimistis, dan penuh semangat, yang menganggap semua bisa dilaksanakan. Sekarang saya tampak jadi sangat anti-Inggris, terutama antirezim kolonial di Malaya dan Singapura yang menurut saya mesti diakhiri.

Setahun di Inggris mengkristalkan perubahan-perubahan yang terjadi sejak pendudukan Jepang. Kini saya melihat orang-orang Inggris di negara mereka sendiri. Ada yang luar biasa baik seperti W.S. Thatcher. Namun, kalangan bawah terutama sangat memandang rendah orang Asia. Saya meragukan kemampuan dan itikad mereka untuk memerintah Malaya dan Singapura demi kesejahteraan penduduk setempat.

Menikah diam-diam
Sementara itu Choo dan saya juga mendiskusikan masa depan kami. Kami pikir, sebaiknya kami menikah diam-diam pada liburan bulan Desember. Orang tua Choo pasti tidak akan setuju, begitu pula Girton College dan pemberi beasiswa. Kami menikah di Desa Shakespeare, Stratford-on-Avon. Dalam perjalanan ke sana kami singgah di London, dan saya membelikan Choo cincin platina di sebuah toko perhiasan di Regent Street. Ketika kami kembali ke Cambridge, ia memakai cincin kawin itu sebagai bandulan kalung.

Mei l949 kami menempuh ujian akhir kami untuk menjadi ahli hukum. Saya dan Choo sama-sama lulus First Class. Saya juga memenangkan bintang Distinction yang cuma satu-satunya dari Law Tripos II. Saya senang sebab kami tidak mengecewakan W.S. Thatcher.

Saya gembira bisa pulang. Namun, kalau saya kenang kembali, masa empat tahun di Inggris merupakan masa yang memberi banyak kebahagiaan. Saya melihat Inggris yang morat-marit akibat perang. Walaupun demikian, penduduknya tidak putus asa. Mereka juga tidak menjadi sombong karena menang.

Kami tiba di Singapura l Agustus l949. Karena masih merahasiakan pernikahan kami, kami pulang ke rumah masing-masing. Choo ke Pasir Panjang, saya ke 38 Oxley Road.

Kami menikah kembali di Singapura tahun l950. Orang tua kami menyelenggarakan resepsi untuk sanak keluarga di Raffles Hotel.

Di Singapura, Lee Kuan Yew menjadi pejuang kemerdekaan dengan People's Action Party (PAP)-nya. PAP menang pada pemilu pertama di Singapura, Mei l959. Lee menjadi Perdana Menteri.

Saat itu Singapura jauh dari makmur. Kas negara kosong. Para penanam modal menyingkir karena tidak percaya negara pulau sekecil itu bisa bertahan. Air minum saja tergantung dari tetangga, Johor (Malaysia).

Karena merasa tidak bisa bertahan sendirian, September l963 Singapura bergabung dengan negara-negara di Semenanjung Malaya, yang bersama dengan Sabah dan Sarawak membentuk Federasi Malaysia. Pembentukan Malaysia itu ditentang keras oleh Presiden Soekarno dari Indonesia dan Presiden Macapagal dari Filipina. Presiden Soekarno merasa Kalimantan Utara (Sabah dan Sarawak) merupakan bagian dari RI.

Pada masa konfrontasi dengan RI, Lee bertentangan terus dengan pemimpin-pemimpin pusat Malaysia yang diketuai oleh Tunku Abdul Rahman. PAP menuduh pemimpin-pemimpin Malaysia menghasut penduduk Melayu untuk memusuhi PAP yang dianggap berbahaya bagi dominasi UMNO. Pemimpin-pemimpin pemerintah pusat di Kualalumpur menuduh PAP selalu mau ikut campur dalam politik federal.

Bulan Juli l964 di Singapura meletus kerusuhan rasial yang menjatuhkan 23 korban jiwa dan 454 cedera. PAP menuduh kerusuhan ini disulut oleh tokoh-tokoh tertentu di Kualalumpur. Kualalumpur membantah. Menurut peneliti Inggris yang menulis artikel pada tahun itu, Tunku menyatakan orang-orang Indonesia-lah yang mendalangi kerusuhan itu.

Kerusuhan itu memperuncing pertentangan antara Singapura dan pemerintah pusat. Puncaknya terjadi 9 Agustus l965. Hari itu Singapura "diceraikan" oleh Malaysia.

Namun, ternyata Singapura bertahan, bahkan menjadi makmur melebihi tetangga-tetangganya. Kelanjutannya bisa dibaca dalam buku jilid II yang terbit menjelang akhir l999. (HI, Intisari)

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)