| |
C © updated 09092004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/rpr |
|
| |
Nama:
Affandi
Lahir:
Cirebon, 1907
Meninggal:
Mei 1990
Agama:
Islam
Istri:
- Maryati (isteri pertama)
- Rubiyem (isteri kedua)
Anak:
- Kartika Affandi
- Juki Affandi BSc
- Rukmini (adik tiri)
Pendidikan:
- H.I.S
- M.U.L.O
- A.M.S
Profesi:
-Pelukis
- Pengajar seni lukis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Yogyakarta,
Jateng
Aliran:
Ekspresionisme atau abstrak
Penghargaan:
- Piagam Anugerah Seni, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1969
- Doktor Honoris Causa dari University of Singapore, 1974
- Dag Hammarskjoeld, International Peace Prize (Florence, Italy, 1997)
- Bintang Jasa Utama, tahun 1978
- Julukan Pelukis Ekspressionis Baru Indonesia oleh Koran International
Herald Tribune
- Gelar Grand Maestro di Florence, Italia
Pengalaman Organisasi:
- Anggota Hak-Hak Azasi Manusia dari Comite Pusat Diploatic Academy
of
Peace PAX MUNDI di Castelo San Marzano, Florence, Italia
- Dewan Penyantun ISI (Institut Seni Indonesia) di Yogakarta.
Pameran-Pameran:
- Museum of Modern Art (Rio de Janeiro, Brazil, 1966)
- East-West Center (Honolulu, 1988)
- Festival of Indonesia (U.S.A., 1990-1992)
- Gate Foundation (Amsterdam, Holland , 1993)
- Singapore Art Museum (1994)
- Centre for Strategic and International Studies (Jakarta, 1996)
- Indonesia-Japan Friendship festival (Morioka, Tokyo, 1997)
- ASEAN Masterworks (Selangor, Kuala Lumpur, Malaysia, 1997-1998)
- Pameran keliling di berbagai kota di India.
- Pameran di Eropa al: London, Amsterdam, Brussels, Paris, Roma
- Pameran di benua Amerika al: Brazilia, Venezia, San Paulo, Amerika
Serikat
- Pameran di Australia dan lain-lain
Museum:
Museum Affandi, Jl. Adisucipto, Yogyakarta
Sumber:
Buku Wajah-Wajah Indonesia karya Solichin Salam dan berbagai sumber
|
|
| |
|
|
|
|
Affandi (1907-1990)
Maestro Seni Lukis Indonesia
Semasa hidupnya, ia telah menghasilkan lebih dari 2.000 karya lukis.
Karya-karyanya yang dipamerkan ke berbagai negara di dunia, baik di Asia,
Eropa, Amerika maupun Australia selalu memukau pecinta seni lukis dunia.
Pelukis yang meraih gelar Doktor Honoris Causa dari University of
Singapore tahun 1974 ini dalam mengerjakan lukisannya, lebih sering
menumpahkan langsung cairan cat dari tube-nya kemudian menyapu cat itu
dengan jari-jarinya, bermain dan mengolah warna untuk mengekspresikan apa
yang ia lihat dan rasakan tentang sesuatu.
Dari segi pendidikan, putra Cirebon kelahiran Cirebon tahun 1907 ini
termasuk seorang yang memiliki pendidikan formal yang cukup tinggi. Bagi
generasinya yang kelahiran 1907, memperoleh pendidikan H.I.S, MULO, dan
selanjutnya tamat dari A.M.S, termasuk pendidikan yang hanya diperoleh
oleh segelintir anak negeri. Namun bakat seni lukisnya yang sangat kental
mengalahkan disiplin ilmu lain dalam kehidupannya, dan memang telah
menjadikan namanya tenar sama dengan tokoh atau pemuka bidang lainnya.
Ketika Republik ini diproklamasikan 1945, banyak pelukis ambil
bagian. Gerbong-gerbong kereta dan tembok-tembok ditulisi antara
lain "Merdeka atau mati!". Kata-kata itu diambil dari
penutup pidato Bung Karno 'Lahirnya Pancasila', 1 Juni 1945.
Saat itulah, Affandi mendapat tugas membuat poster. Poster itu
idenya dari Bung Karno, gambar orang yang dirantai tapi rantai
itu sudah putus. Yang dijadikan model pelukis Dullah. Lalu kata-kata
apa yang harus ditulis di poster itu? Kebetulan muncul penyair
Chairil Anwar. Soedjojono menanyakan kepada Chairil, maka dengan
enteng Chairil ngomong: "BUNG, AYO BUNG!"
Dan selesailah poster bersejarah itu. Sekelompok pelukis siang
malam memperbanyaknya dan dikirim ke daerah-daerah. Dari mana
kah Chairil memungut kata-kata itu? Ternyata kata-kata itu,
biasa diucapkan oleh pelacur-pelacur di Jakarta yang menawarkan
dagangannya pada jaman itu.
Bakat melukis yang menonjol pada dirinya pernah enorehkan cerita
menarik dalam kehidupannya. Suatu saat, dia pernah mendapat
beasiswa untuk kuliah melukis di Santiniketan, India, suatu
Akademi yang didirikan oleh Rabindranath Tagore. Ketika telah
tiba di India, dia ditolak dengan alasan bahwa dia dipandang
sudah tidak memerlukan pendidikan melukis lagi. Akhirnya biaya
beasiswa yang telah diterimanya digunakan untuk mengadakan pameran
keliling negeri India.
Sepulang dari India, Eropa, pada tahun limapuluhan, Affandi
dicalonkan oleh PKI untuk mewakili orang-orang tak berpartai
dalam pemilihan Konstituante. Dan terpilihlah dia, seperti Frof.
Ir. Saloekoe Poerbodiningrat dsb untuk mewakili orang-orang
tak berpartai. Dalam sidang konstituante, menurut Basuki Resobowo
yang teman pelukis juga, biasanya katanya Affandi cuma diam,
kadang-kadang tidur. Tapi ketika sidang komisi, Affandi angkat
bicara. Dia masuk komisi Perikemanusiaan (mungkin sekarang HAM)
yang dipimpin Wikana, teman dekat Affandi juga sejak sebelum
revolusi.
Lalu apa topik yang diangkat Affandi? "Kita bicara tentang
Perikemanusiaan, lalu bagaimana tentang Perikebinatangan?"
demikianlah dia memulai orasinya.
Tentu saja yang mendengar semua tertawa ger-geran. Affandi bukan
orang humanis biasa. Pelukis yang suka pakai sarung, juga ketika
dipanggil ke istana semasa Suharto masih berkuasa dulu, intuisinya
sangat tajam. Meskipun hidup di jaman teknologi yang sering
diidentikkan jaman modern itu, dia masih sangat dekat dengan
fauna, flora dan alam semesta ini. Ketika Affandi mempersoalkan
'Perikebinatangan' tahun 1955, kesadaran masyarakat terhadap
lingkungan hidup masih sangat rendah.
Affandi juga termasuk pimpinan pusat Lekra (Lembaga Kebudayaan
Rakyat), organisasi kebudayaan terbesar yang dibubarkan oleh
rezim Suharto. Dia bagian seni rupa Lembaga Seni Rupa) bersama
Basuki Resobowo, Henk Ngantung, dan sebagainya.
Pada tahun enampuluhan, gerakan anti imperialis AS sedang mengagresi
Vietnam cukup gencar. Juga anti kebudayaan AS yang disebut sebagai
'kebudayaan imperialis'. Film-film Amerika, diboikot di negeri
ini. Waktu itu Affandi mendapat undangan untuk pameran di gedung
USIS Jakarta. Dan Affandi pun, pameran di sana.
Ketika sekelompok pelukis Lekra berkumpul, ada yang mempersoalkan.
Mengapa Affandi yang pimpinan Lekra kok pameran di tempat perwakilan
agresor itu. Menanggapi persoalan ini, ada yang nyeletuk: "Pak
Affandi memang pimpinan Lekra, tapi dia tak bisa membedakan
antara Lekra dengan Lepra!" kata teman itu dengan kalem.
Karuan saja semua tertawa.
Dalam perjalanannya berkarya, pemegang gelar Doctor Honoris Causa dari
University of Singapore tahun 1974, ini dikenal sebagai seorang pelukis
yang menganut aliran ekspresionisme atau abstrak. Sehingga seringkali
lukisannya sangat sulit dimengerti oleh orang lain terutama oleh orang
yang awam tentang dunia seni lukis jika tanpa penjelasannya. Namun bagi
pecinta lukisan hal demikianlah yang menambah daya tariknya.
Affandi memang hanyalah salah satu pelukis besar Indonesia bersama pelukis
besar lainnya seperti Raden Saleh, Basuki Abdullah dan lain-lain. Namun
karena berbagai kelebihan dan keistimewaan karya-karyanya, para
pengagumnya sampai menganugerahinya berbagai sebutan dan julukan
membanggakan antara lain seperti julukan Pelukis Ekspressionis Baru
Indonesia bahkan julukan Maestro. Adalah Koran International Herald
Tribune yang menjulukinya sebagai Pelukis Ekspressionis Baru Indonesia,
sementara di Florence, Italia dia telah diberi gelar Grand Maestro.
Berbagai penghargaan dan hadiah bagaikan membanjiri perjalanan hidup dari
pria yang hampir seluruh hidupnya tercurah pada dunia seni lukis ini. Di
antaranya, pada tahun 1977 ia mendapat Hadiah Perdamaian dari
International Dag Hammershjoeld. Bahkan Komite Pusat Diplomatic Academy of
Peace PAX MUNDI di Castelo San Marzano, Florence, Italia pun mengangkatnya
menjadi anggota Akademi Hak-Hak Azasi Manusia.
Dari dalam negeri sendiri, tidak kalah banyak penghargaan yang telah
diterimanya, di antaranya, penghargaan "Bintang Jasa Utama" yang
dianugrahkan Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1978. Dan sejak 1986
ia juga diangkat menjadi Anggota Dewan Penyantun ISI (Institut Seni
Indonesia) di Yogyakarta. Bahkan seorang Penyair Angkatan 45 sebesar
Chairil Anwar pun pernah menghadiahkannya sebuah sajak yang khusus
untuknya yang berjudul Kepada Pelukis Affandi.
Untuk menghargai karya-karya besarnya, berbagai lembaga atau yayasan juga
berusaha mengabadikan kenang-kenangan pelukis besar ini. Pada tahun 1976,
Prix International Dag Hammerskjoeld telah menerbitkan sebuah buku
kenang-kenangan tentang “Affandi”. Buku setebal 189 halaman lebih itu
diterbitkan dalam 4 bahasa, yaitu dalam bahasa Inggris, Belanda, Perancis,
dan Indonesia. Demikian juga Penerbitan Yayasan Kanisius, telah
menerbitkan sebuah buku tentang Affandi karya Nugraha Sumaatmadja pada
tahun 1975.
Begitu pula dalam rangka memperingati 70 tahun Affandi pada tahun 1978,
Dewan Kesenian Jakarta pun menerbitkan buku “Affandi 70 Tahun” susunan
Ajip Rosidi, Zaini, Sudarmadji. Dan dalam rangka memperingati 80 tahun
Affandi di tahun 1987, Yayasan Bina Lestari Budaya Jakarta, menerbitkan
sebuah buku tentang “Affandi”. Buku yang disusun oleh Raka Sumichan dan
Umar Kayam setebal 222 halaman lebih itu diterbitkan dalam dua bahasa
yakni bahasa Inggris dan Indonesia.
Untuk mendekatkan dan memperkenalkan karya-karyanya kepada para pecinta
seni lukis, Affandi sering mengadakan pameran di berbagai tempat. Di
negara India, dia telah mengadakan pameran keliling ke berbagai kota.
Demikian juga di berbagai negara di Eropa, Amerika serta Australia. Di
Eropa, ia telah mengadakan pameran antara lain di London, Amsterdam,
Brussels, Paris dan Roma. Begitu juga di negara-negara benua Amerika
seperti di Brazilia, Venezia, San Paulo, dan Amerika Serikat. Hal demikian
jugalah yang membuat namanya dikenal di berbagai belahan dunia.
Meski sudah melanglangbuana ke berbagai negara, Affandi dikenal sebagai
sosok yang sederhana dan suka merendah. Pelukis yang kesukaannya makan
nasi dengan tempe bakar ini mempunyai idola yang terbilang tak lazim.
Orang-orang lain bila memilih wayang untuk idola, biasanya memilih yang
bagus, ganteng, gagah, bijak, seperti; Arjuna, Gatutkaca, Bima atau
Werkudara, Kresna.
Namun, Affandi memilih Sokasrana yang wajahnya jelek namun sangat sakti.
Tokoh wayang itu menurutnya merupakan perwakilan dari dirinya yang jauh
dari wajah yang tampan. Meskipun begitu, Departemen Pariwisata Pos dan
Telekomunikasi (Deparpostel) mengabadikan wajahnya dengan menerbitkan
prangko baru seri tokoh seni/artis Indonesia. Menurut Helfy Dirix (cucu
tertua Affandi) gambar yang digunakan untuk perangko itu adalah lukisan
self portrait Affandi tahun 1974, saat Affandi masih begitu getol dan
produktif melukis di museum sekaligus kediamannya di tepi Kali Gajahwong
Yogyakarta.
Kesederhanaan cara berpikirnya terlihat saat suatu kali, Affandi merasa
bingung sendiri ketika kritisi Barat menanyakan konsep dan teori
lukisannya. Oleh para kritisi Barat, lukisan Affandi dianggap memberikan
corak baru aliran ekspresionisme. Tapi ketika itu justru Affandi balik
bertanya, ''Aliran apa itu?''.
Bahkan hingga saat tuanya, Affandi membutakan diri dengan teori-teori.
Bahkan ia dikenal sebagai pelukis yang tidak suka membaca. Baginya,
huruf-huruf yang kecil dan renik dianggapnya momok besar.
Bahkan, dalam keseharian, ia sering mengatakan bahwa dirinya adalah
pelukis kerbau, julukan yang diakunya karena dia merasa sebagai pelukis
bodoh. Mungkin karena kerbau adalah binatang yang dianggap dungu dan bodoh.
Sikap ''sang maestro'' yang tidak gemar berteori dan lebih suka bekerja
secara nyata ini dibuktikan dengan kesungguhan dirinya menjalankan profesi
sebagai pelukis yang tidak cuma musiman pameran. Bahkan terhadap bidang
yang dipilihnya, dia tidak overacting.
Misalnya jawaban Affandi setiap kali ditanya kenapa dia melukis. Dengan
enteng, dia menjawab, ''Saya melukis karena saya tidak bisa mengarang,
saya tidak pandai omong. Bahasa yang saya gunakan adalah bahasa lukisan.''
Bagi Affandi, melukis adalah bekerja. Dia melukis seperti orang lapar.
Sampai pada kesan elitis soal sebutan pelukis, dia hanya ingin disebut
sebagai ''tukang gambar''.
Lebih jauh ia berdalih bahwa dirinya tidak cukup punya kepribadian besar
untuk disebut seniman, dan ia tidak meletakkan kesenian di atas
kepentingan keluarga. ''Kalau anak saya sakit, saya pun akan berhenti
melukis,'' ucapnya.
Dari segi produktifitas, Affandi termasuk pelukis yang cukup produktif.
Menurut Affandi sendiri, dia telah melukis lebih dari 2.000 buah lukisan
dan sekitar 300 buah lukisan koleksi pribadinya kini disimpan di Museum
Affandi, Jogyakarta. Museum yang diresmikan oleh Fuad Hassan, Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan ketika itu dalam sejarahnya telah pernah
dikunjungi oleh Mantan Presiden Soeharto dan Mantan Perdana Menteri
Malaysia Dr. Mahathir Mohammad pada Juni 1988 kala keduanya masih berkuasa.
Museum ini didirikan tahun 1973 di atas tanah yang menjadi tempat
tinggalnya.
Sampai ajal menjemputnya pada Mei 1990, ia tetap menggeluti profesi
sebagai pelukis. Kegiatan yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Ia
dikuburkan tidak jauh dari Museum yang didirikannya itu.
Saat ini, terdapat sekitar 1.000-an lebih lukisan di Museum Affandi, dan
300-an di antaranya adalah karya Affandi. Lukisan-lukisan Affandi yang
dipajang di galeri I adalah karya restropektif yang punya nilai
kesejarahan mulai dari awal karirnya hingga selesai, sehingga tidak dijual.
Sedangkan galeri II adalah lukisan teman-teman Affandi baik yang masih
hidup maupun yang sudah meninggal seperti Basuki Abdullah, Popo Iskandar,
Hendra, Rusli, Fajar Sidik, dan lain-lain. Adapun galeri III berisi
lukisan-lukisan keluarga Affandi.
Di dalam galeri III yang selesai dibangun tahun 1997, saat ini
terpajang lukisan-lukisan terbaru Kartika Affandi yang dibuat
pada tahun 1999. Lukisan itu antara lain "Apa yang Harus
Kuperbuat" (Januari 99), "Apa Salahku? Mengapa ini
Harus Terjadi" (Februari 99), "Tidak Adil" (Juni
99), "Kembali Pada Realita Kehidupan, Semuanya Kuserahkan
KepadaNya" (Juli 99), dan lain-lain. Ada pula lukisan Maryati,
Rukmini Yusuf, serta Juki Affandi. ►mlp-juka
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|