| |
C © updated 28022009 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
BIODATA
Nama:
Tengku Amir Hamzah Indera Putera
Lahir:
Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Utara,
28 Februari 1911
Meninggal:
Kuala Begumit, 20 Maret 1946
Ayah:
Tengku Muhammad Adil
Pendidikan:
-
Sekolah Menengah Langkatsche School (HIS)
-
MULO di Medan dandi Jakarta,
-
Aglemeene Middelbare School (AMS) jurusan Sastra Timur di Solo,
-
Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta
Karir:
Sasatrawan,
Penyair
-
Wakil Pemerintah Republik Indonesia untuk Langkat yang berkedudukan di
Binjai, 29 Oktober 1945-20 Maret 1946
Karya:
kumpulan sajak Buah Rindu,
Nyanyi Sunyi,
Setanggi Timur, Terjemah Baghawat Gita
Penghargaan:
Diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1975 |
|
| |
|
|
|
|
| AMIR HAMZAH HOME |
|
|
 |
Amir Hamzah, Tengku (1911-1946)
Sastrawan Pujangga Baru
Tokoh Indonesia 28/02/2009: Amir Hamzah lahir sebagai seorang manusia penyair
pada 28 Februari 1911 di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Utara.
Ia seorang sastrawan Pujangga Baru. Pemerintah menganugerahinya Pahlawan
Nasional. Anggota keluarga kesultanan
Langkat bernama lengkap Tengku Amir Hamzah Indera Putera, ini wafat di Kuala Begumit, 20 Maret 1946 akibat revolusi sosial di Sumatera Timur.
Sebagai seorang keluarga istana (bangsawan), ia
memiliki tradisi sastra yang kuat. Menitis dari ayahnya, Tengku Muhammad
Adil, seorang pangeran di Langkat, yang sangat mencintai sejarah
dan sastra Melayu. Sang Ayah (saudara Sultan
Machmud), yang menjadi wakil sultan untuk Luhak Langkat Bengkulu dan
berkedudukan di Binjai, Sumatra Timur, memberi namanya Amir Hamzah
adalah karena sangat mengagumi Hikayat Amir Hamzah.
Sejak masa kecil, Amir Hamzah sudah hidup dalam suasana lingkungan yang
menggemari sastra dan sejarah. Ia bersekolah di Langkatsche School (HIS),
sekolah dengan tenaga pengajar orang-orang Belanda. Lalu sore hari,
ia belajar mengaji di Maktab Putih di sebuah rumah besar bekas istana
Sultan Musa, di belakang Masjid Azizi Langkat.
Setamat HIS, Amir
melanjutkan studi ke MULO di Medan, tapi tidak sampai selesai. Ia pindah ke
MULO di Jakarta. Di Jawa perkembangan kepenyairannya makin terbentuk.
Apalagi sejak sekolah di Aglemeene Middelbare School (AMS) jurusan Sastra Timur di Solo,
Amir menulis sebagian besar
sajak-sajak pertamanya. Di sini ia memperkaya diri dengan kebudayaan modern, kebudayaan
Jawa, dan kebudayaan Asia lainnya.
Kegemaran dan kepiawian menulis saja itu berlanjut hingga saat ia
melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta.
Dalam kumpulan sajak Buah Rindu yang ditulis antara tahun 1928 dan t1935, tapak perubahan lirik pantun dan syair
Melayunya menjadi sajak yang lebih modern.
Tahun 1931, ia telah memimpin Kongres Indonesia Muda di Solo.
Pergaulannya dengan para tokoh pergerakan nasional itu telah mewarnai dunia kesusasteraannya.
Sebagai sastrawan dan melalui karya-karyanya yang
ditulis dalam bahasa Indonesia, Amir telah memberikan
sumbangan besar dalam proses perkembangan dan pematangan bahasa
Melayu menjadi bahasa nasional Indonesia. Dalam suratnya kepada Armijn Pane pada
bulan November 1932, ia menyebut bahasa Melayu adalah bahasa
yang molek.
Bagi Amir,
Bahasa Indonesia adalah simbol dari kemelayuan, kepahlawanan dan keislaman.
Hal ini tercermin dari syair-syair Amir yang merupakan refleksi dari relijiusitas,
dan kecintaannya pada ibu pertiwi serta kegelisahan sebagai seorang pemuda Melayu.
Secara keseluruhan ada sekitar 160 karya Amir
yang berhasil dicatat. Di antaranya 50 sajak asli, 77 sajak
terjemahan, 18 prosa liris asli, 1 prosa liris terjemahan, 13 prosa asli
dan 1 prosa terjemahan. Karya-karyanya tercatat dalam kumpulan
sajak Buah Rindu, Nyanyi Sunyi, Setanggi Timur dan terjemah Baghawat
Gita.
Ia memang seorang
penyair hebat. Perintis kepercayaan diri para
penyair nasional untuk menulis karya sastra dalam bahasa Indonesia,
sehingga semakin meneguhkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Amir seorang enyair besar Pujangga Baru, yang kepenyairannya membuat Bahasa Melayu-Indonesia mendapat suara dan lagu yang
unik yang terus dihargai hingga saat ini. Ia
penyair yang tersempurna dalam bahasa Melayu-Indonesia hingga sekarang.
Amir adalah tiga sejoli bersama Armijn
Pane dan SutanTakdir Alisyahbana,
yang memimpin Pujangga Baru. Mereka mengelola majalah yang menguasai kehidupan
sastera dan kebudayaan Indonesia dari tahun 1933 hingga pecah perang
dunia kedua.
Pemerintah RI kemudian mengapresiasi jasa dan sumbangsih Amir Hamzah
ini dengan menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1975.
Selain itu, penghargaan atas jasa Amir
Hamzah terlihat dari penggunaan namanya sebagai nama gedung
pusat kebudayaan Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala
Lumpur, dan nama masjid di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Namun akhir hidup penyair yang juga pengikut tarekat Naqsabandiyah ini
ternyata berakhir tragis. Setelah pada 29 Oktober 1945, Amir diangkat menjadi
Wakil Pemerintah Republik Indonesia untuk Langkat yang berkedudukan di
Binjai (saat itu Amir adalah juga Pangeran Langkat Hulu di Binjai),
kemudian terjadi revolusi sosial pada Maret 2006.
Sasarannya adalah keluarga bangsawan yang dianggap feodal dan kurang memihak kepda
rakyat, termasuk Amir Hamzah.
Amir Hamzah meninggal akibat revolusi sosial di Sumatera Timur itu,
justru pada awal kemerdekaan Indonesia. Kala itu, ia hilang
tak tentu rimbanya. Mayatnya ditemukan di sebuah pemakaman massal yang
dangkal di Kuala Begumit. Konon, ia tewas dipancung hingga tewas tanpa proses peradilan pada
dinihari, 20 Maret 1946, dalam usia yang relaif mati muda,
35 tahun. Ia dimakamkan di pemakaman mesjid Azizi, Tanjung Pura, Langkat. Di
makamnya terukir dua buah syairnya.
Pada sisi kanan batu nisan, terpahat bait sajak;
Bunda, waktu tuan melahirkan beta
Pada subuh embang cempaka
Adalah ibu menaruh sangka
Bahwa begini peminta anakda
Tuan aduhai mega berarak
Yang meliputi dewangga raya
Berhentilah tuan di atas teratak
Anak Langkat musafir lata
Pada sisi kiri batu nisannya, terpahat ukiran bait sajak:
Datanglah engkau wahai maut
Lepaskan aku dari nestapa
Engkau lagi tempatku berpaut
Di waktu ini gelap gulita
Sampaikan rinduku pada adinda
Bisikkan rayuanku pada juita
Liputi lututnya muda kencana
Serupa beta memeluk dia
Apa kesalahannya sehingga ia diperlakukan seperti itu? 'Kesalahannya'
hanya karena ia lahir dari keluarga istana.
Pada saat itu sedang terjadi revolusi sosial yang bertujuan untuk
memberantas segala hal yang berbau feodal dan feodalisme. Banyak para tengku dan bangsawan istana yang dibunuh
saat itu,
termasuk Amir Hamzah. ►tsl
*** TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Referensi:
-
Abrar Yusra (ed), 1996. Amir Hamzah--1911-1946: Sebagai Manusia dan
Penyair. Jakarta: Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Jassin.
- http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/hamzah.html
-
http://personage.melayuonline.com/?a=UlZWL29QTS9VenVwRnRCb20%3D=
- http://id.shvoong.com/social-sciences/1686930-amir-hamzah/
- Amir Hamzah Penyair Besar Antara Dua Zaman
oleh: Sutan Takdir Alisjahbana
-
Wikipedia
|
|