| |
C © updated 21062004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Franz Magnis-Suseno, SJ (dahulu Franz Graf von Magnis)
Lahir:
Eckersdorf, Jerman 26 Mei 1936
Agama:
Katolik
Jenis Kelamin:
Laki-laki
Keluarga:
Tidak berkeluarga (rohaniwan)
Ayah:
Dr. Ferdinand Graf von Magnis
Ibu:
Maria Anna Grafin von Magnis, prinzessin zu Lowenstein
Kakak-Adik:
5 orang adik, satu laki-laki (sudah meninggal), empat perempuan.
Pendidikan Akademik:
1957-1960: Studi Filsafat di Philosophische Hochschule Pullach
1964-1968: Studi Teologi di Institut Filsafat Teologi di Yogyakarta.
1971-1973: Studi doktoral di Ludung Maximilians Universitat di Munchen
Gelar akademik terakhir:
1973 Doctor Philosophiae summa cum laude dari Ludung Maximilians-
Universitat di Munchen dengan disertasi "Die Funktion normbativer
Voraussetzungen im Denken des Jungen Marx (1843-1848) dengan promotor
Prof. Dr. Nikolaus Lobkowicz dan Copromotor Prof. Dr. Hans Baumgartner.
Instansi tempat kerja:
Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta
Jabatan Akademik:
Guru Besar, tgl. 1 April 1996
Jabatan Struktural:
Direktur Program Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.
Penghargaan:
1. Satyalancana Dundyia Sistha dari Menhankam 24-11-1986.
2. Das grobe Verdienstkreuz des Verdienstordens Republik Federasi Jerman
Alamat rumah:
Johar Baru VI A/6. Jakarta 10560
Tel: (021)4209377
Fax: (021)42875347
Alamat kantor:
Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara
Jl. Cempaka Putih Indah 100A, Jembatan Serong, Rawasari Jakarta 10520
Tel: (021 )4259847/4247129.
Fax: (021 )4224866.
email: magnis@dnet.net.id
|
|
| |
|
|
|
|
== 1
2 3
4 5 6 7 8 ==
Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, SJ (1)
Potret Pelayanan Pastor Indonesianis
Dia seorang pastor yang sering dijuluki “Kasman” atau bekas Jerman yang
sangat Indonesianis. Direktur Program Pasca Sarjana Sekolah Tinggi
Filsafat Driyarkara, Jakarta, ini akrab dipanggil Romo Magnis.
Pelayanannya sebagai pastor (rohaniawan Katolik) melahirkan kecintaannya
pada Indonesia. Dia pun menanggalkan kewarganegaraan Jerman beralih
menjadi warga negara Indonesia. Guru Besar Filsafat ini dapat bergaul
dengan siapa saja tanpa batas sosial, agama dan golongan. Dia pun
disenangi semua orang!
Hampir duapertiga usia pria kelahiran Eckersdorft, Jerman 26 Mei 1936,
ini dihabiskan di Indonesia. Datang dengan motivasi tunggal berkarya
melayani melalui Gereja Katolik di Indonesia, sebuah negeri yang
diketahuinya sangat indah dan menyenangkan. Sudah sejak 29 Januari 1961
dia tinggal menetap di Indonesia. Ditahbiskan menjadi imam atau pastor
tahun 1967 di Yogyakarta. Kemudian tahun 1977 menjadi warga negara
Indonesia, setelah menunggu tujuh tahun proses pengurusannya. Dia tak
pernah menyesal memilih menjadi warga negara Indonesia. Kemudian sejak 1
April 1996, dia menjadi guru besar filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat
Driyarkara, Jakarta.
Franz Magnis-Suseno, SJ adalah anak sulung dari enam bersaudara dari
sebuah keluarga bangsawan Jerman. Dia lahir pada tanggal 26 Mei 1936 di
Eckersdorf, Silesia, kabupaten Glatz, sebuah daerah Jerman paling timur
yang dahulu menjorok sampai ke daerah yang kini bernama Polandia. Semasa
kanak-kanak, bersama keluarga dia pernah mengalami situasi yang sangat
buruk akibat Perang Dunia (PD) II.
Daerah Jerman bagian paling timur itu, sesudah PD-II dipotong lalu
diberikan seperlimanya kepada Polandia dan sisanya kepada Uni Soviet.
Sedangkan, seluruh penduduk 9 juta orang Jerman dari situ diusir paksa
ke Jerman Barat. Franz Magnis, seorang bangsawan anak sulung yang belum
genap berusia 10 tahun bersama seluruh keluarga harus lari dari kejaran
tentara Uni Soviet menuju ke Cekoslovakia Barat, dan dari situ kemudian
melarikan diri lagi menuju Jerman Barat. Mereka, bersama 9 juta warga
Jerman lainnya harus kehilangan segala sesuatu harta benda kepunyaan.
Sebuah perjuangan yang sangat sulit dan melelahkan.
Dia bersama keluarga lalu menetap sekitar 80 kilometer di sebelah
selatan kota Frankfurt. Mereka memilih tinggal dan menetap ke Jerman
bagian barat yang berada di bawah pengawasan tentara sekutu pimpinan
Amerika Serikat.
Jerman Raya yang dahulu berbentuk kerajaan mencoba mengubah diri menjadi
negara demokrasi dan memunculkan dua partai terbesar, yakni partai Nazi
dan partai komunis. Partai Nazi pimpinan Adolf Hitler berkuasa sebagai
pemenang pemilihan umum, namun kemudian berubah muka menjadi otoriter.
Pemerintahan Hitler ini pun menyerang dan merebut Polandia tahun 1939
yang menjadi pemicu bergolaknya Perang Dunia II. Saat itu, usia Franz
Magnis masih tiga tahun. Pendaratan tentara Sekutu pimpinan Amerika
Serikat di Pantai Laut Normandia pada tanggal 6 Juni 1944 menjadi titik
balik kekalahan tentara Nazi Jerman, yang puncaknya terjadi setahun
kemudian (1945) Nazi Jerman menyerah kalah perang.
*****
Selain keluarga bangsawan, keluarga Franz Magnis juga tergolong keluarga
rohaniwan yang sangat Katolik. Setelah berusia 19 tahun (1955), dia
menyelesaikan pendidikan di Humanistisches Gymnasium, setingkat SLTA,
kemudian masuk menjadi anggota tarekat Serikat Yesus (SY) atau Ordo
Yesuit. Di situ dia menjadi seorang rohaniwan muda Katolik. Serikat
Yesus berkarya demi gereja di seluruh dunia dan bersifat internasional.
Dua tahun pertama masuk Ordo Yesuit, rohaniwan muda ini mengisinya
dengan mendalami kerohanian di Neuhausen, antara tahun 1955-1957.
Semasa pendalaman itu, dia makin sering menerima dan membaca surat-surat
dari para Yesuit Jerman yang sudah lebih dahulu bekerja dan berkarya
membantu Gereja di Indonesia. Surat-surat itu berisi penuh pujian
tentang Indonesia. Dia lalu merasakan ada sebentuk ketertarikan jika
suatu saat nanti berkarya membantu gereja-gereja di negara lain, seperti
Indonesia, daripada di Jerman.
Usai pendalaman kerohanian di Neuhausen, sebagaimana biasa berlaku umum
di lingkungan Serikat Yesus, Franz Magnis mendalami studi filsafat di
Philosophissche Hochschule, Pullach, dekat kota Munchen antara tahun
1957-1960. Pada tahun 1959 dia sudah mencapai gelar akademik Bakalaureat
dalam filsafat, dan setahun kemudian (1960) mencapai Lizentiat juga
dalam filsafat. Pada tahun ketiga studi filsafat itulah, tepatnya di
tahun 1959, Franz Magnis secara resmi mengajukan lamaran untuk dikirim
berkarya melayani gereja di Indonesia. Lamaran yang ditujukan kepada
pimpinan Serikat Yesuit di Roma, itu ternyata dikabulkan.
Permohonan untuk dikirim ke Indonesia itu diajukan, dengan kesadaran
yang tiba-tiba muncul bahwa bidang studi filsafat tidaklah seberapa
diperlukan lagi di Jerman. Sebab di Jerman sudah banyak pakar filsafat
dan di antara mereka terdapat pula beberapa anggota terkenal Serikat
Yesus.
“Tetapi, barangkali saja saya bisa membantu Gereja di Indonesia. Saya
telah mengikuti perkembangan Indonesia paling tidak mulai tahun 1957,
ketika beberapa rekan muda Jerman setarekat berangkat ke Indonesia untuk
berkarya dalam Gereja Katolik di sana. Mereka mengirim berita-berita
menarik. Saya pikir, kemudian juga ternyata tidak terlalu meleset, di
sana ada kebutuhan terhadap bidang-bidang ilmu yang menarik bagi saya
dan belum ada para ahli untuk bidang-bidang ilmu tersebut,” kenang Franz
Magnis.
Setelah mengetahui kepastian permohonannya melayani ke Indonesia
dikabulkan, barulah Franz berbicara memberitahu kepada keluarga. Dia
berbicara kepada ayahnya, Dr Ferdinand Graf von Magnis, kepada ibunya
Maria Anna Grafin von Magnis, serta kepada seorang adik laki-laki dan
keempat adik perempuannya, bahwa dia akan pergi melayani ke Indonesia.
Keluarga yang sudah tulus merelakan pilihan Franz Magnis menjadi
rohaniwan, pastor tidak berkeluarga, juga merelakannya pergi melayani
jauh ke Indonesia, walaupun secara manusiawi pada awalnya hati rasanya
berat. Namun karena menganggap pilihan itu sebagai sebuah pengorbanan
hidup terbesar atau sacrifice melayani Tuhan, mereka pun semua rela dan
tulus mengijinkan Franz Magnis menempuh hidup menjadi hamba, berkarya,
dan melayani Tuhan jauh di negeri orang.
Sesudah studi filsafatnya selesai ia pun berangkat menuju Indonesia.
Pada tanggal 29 Januari 1961, di suatu siang, tengah hari, hujan turun
namun suhu udara terasakan panas pengap, tampaklah pemuda Jerman yang
berusia 25 tahun itu keluar dari pintu pesawat Superkonstelation milik
maskapai penerbangan Air India, di Bandar Udara Kemayoran, Jakarta.
Dalam waktu 13 bulan pertama di Indonesia, dia isi dengan mempelajari
bahasa Jawa. Empat bulan terakhirnya dia habiskan di Boro, atau Kulon
Progo, sebelah barat Yogyakarta. Daerah ini adalah sebuah desa dengan
suasana lingkungan Jawa yang murni terletak indah di kaki gunung Menoreh.
Setiap malam Franz bersosialisasi, berjalan-jalan mengunjungi dan
berbicara dengan orang-orang di setiap rumah. Tujuannya, selain
bersosialisasi, juga agar bisa mempraktekkan bahasa Jawa. Masa selama
empat bulan terakhir itu dirasakannya benar-benar sangat indah.
Banyak saudara setarekatnya yang berkarya di Jawa Tengah, yang masih
tetap memakai bahasa Jawa sebagai bahasa percakapan dan kebanyakan
mereka memang orang Jawa, selalu menganjurkan kepada setiap orang
setarekat yang baru datang dari luar negeri, seperti Franz Magnis, untuk
terlebih dahulu belajar bahasa Jawa. Pertimbangannya, bahasa Indonesia
akan bisa dipelajari dengan sendirinya. Sedangkan, jika sudah bisa
berbahasa Indonesia biasanya akan malas belajar bahasa daerah yang
begitu rumit. Dia pun menurutinya. Sesudah itu, dia lalu belajar
mendalami bahasa Indonesia kurang lebih empat bulan lamanya.
Dengan demikian Jawa, bahasa Jawa, dengan segala sesuatu yang tercakup
di dalamnya menjadi pintu masuk bagi Franz ke Indonesia. Identitas
Indonesia secara hakiki diresapinya dalam (bahasa) Jawa. Sedemikian
hebatnya sehingga dialek bahasa Indonesianya sangat diwarnai bahasa Jawa.
Dia sangat lancar berbahasa Jawa dan bahasa Indonesia, sehingga orang
kadang-kadang nyeletuk, ‘kok medog amat’.
Tugas pelayanan pertamanya di Indonesia dimulai tahun 1962 hingga 1964
sebagai guru agama di Kolese SMA Kanisius Jakarta, merangkap sebagai
Kepala Asrama Siswa. Dalam kurun waktu tiga tahun itu dia telah mengenal
500 lebih remaja dan tahu nama mereka. Dalam ingatan Franz masih segar
terpatri, dia sebagai guru muda mengenakan jubah putih bersama para
siswa sekolah SMA Kanisius pada setiap peringatan Hari Kemerdekaan 17
Agustus berjalan dalam barisan di depan Istana Presiden dan menyanyikan
lagu-lagu untuk Presiden Sukarno. Hal itu pernah Franz lakukan selama
tiga tahun berturut-urut bersama siswa dari sekolah-sekolah lain.
Franz kemudian meninggalkan SMA Kanisius dan para siswanya sebab dia
dikirim belajar teologi ke Yogyakarta. Antara tahun 1964 sampai 1968 dia
masuk ke Institut Filsafat Teologi Yogyakarta. Tahun-tahun studi ini
sangat penting dan menentukan sebagai masa pembentukan pemahaman dan
identitas keindonesiaannya. Di bangku kuliah itu, dia hidup dan studi
bersama para mahasiswa Yesuit lainnya.
Masa studi itu memberikannya sebuah kesempatan, untuk secara amat
leluasa terus berhubungan dengan orang Jawa. Kesempatan untuk mempunyai
komunikasi yang tidak dirusak oleh hubungan kewibawaan seperti, antara
pastor berhubungan dengan umatnya, dan antara orang ahli luar negeri
dengan orang pribumi bukan ahli. Di masa itu pulalah Franz makin
mengenal betul bagaimana kodrat asli Jawa.
Namun, sesudah kurang lebih satu tahun sampai empat setengah tahun
bermukim di Indonesia, dia sempat merasa mengalami goncangan budaya atau
‘culture shock’. Dia akhirnya dapat melampaui krisis goncangan budaya
tadi, karena hubungan dengan mahasiswa lain begitu bagus. Berbagai hal
tentang kodrat asli Jawa, dalam batas tertentu, dapat dia bicarakan
dengan rekan mahasiswa Jawa lain secara menarik. Akhirnya, dia
berkesimpulan bahwa dirinya telah berada di tempat yang benar, dan bahwa
setiap orang pada umumnya menerimanya secara baik. Kesimpulan itu
dikukuhkan oleh sikap positif terus-menerus yang ditunjukkan oleh
saudara-saudara orang Indonesia yang seordo dengan dia.
Bukti lain, atasannya di Indonesia dalam Serikat Yesus serta di gereja,
berulangkali menyerahkan posisi-posisi penting yang penuh tanggungjawab
kepada Franz Magnis. Hal itu menguatkan keinginan hatinya untuk terus
maju menjadi orang Indonesia tanpa merasa sesal.
Dia berpendapat, barang siapa tidak mengalami ‘culture shock’ semacam
yang dia alami -- katakanlah saat di mana orang menemukan di balik orang
Jawa yang tampil ramah, sering tersenyum dan bermaksud baik itu adalah
orang Jawa yang sebenarnya -- maka orang itu pasti tidak akan mampu
tinggal lebih lama di Indonesia atau hidup bersama orang Indonesia.
Pada tahun 1967, setahun sebelum menyelesaikan studi teologi di Institut
Teologi Filsafat Yogyakarta (1968), dalam usia 31 tahun, Franz
ditahbiskan menjadi imam atau pastor di Yogyakarta. Dia resmi menjadi
Romo dan mulai akrab dipanggil Romo Magnis. Kedua orang tuanya, ayah dan
ibu, datang dari Jerman, khusus melihat pentahbisan Romo Magnis.
Kehadiran ayah-ibunya itu sangat tidak disia-siakan. Dia menghibur
keduanya. Selama tiga minggu mereka tinggal di Indonesia terutama
Yogyakarta. Mereka bersama Franz Magnis giat keliling Indonesia hingga
mendapat kesan baik tentang Indonesia. Mereka melihat langsung Indonesia
sebagai negara yang bagus dan indah, tidak lagi membayangkan macam-macam.
Terutama, ayah dan ibunya itu, tidak lagi takut anak sulungnya yang
telah dipersembahkan kepada Tuhan berada dalam bahaya.
Dirikan STF Driyarkara
Keinginannya mendalami filsafat semasa rema ja di jerman, di kemudian
hari ternyata bak pucuk di cinta ulam tiba. Setelah tiba dan mulai
berkarya di Indonesia, pada tahun 1968 para atasan Indonesianya
menugaskan dia untuk mengajar filsafat. Mereka tidak tahu-menahu bahwa
Franz Magnis sejak semula dari Jerman mempunyai motivasi ke arah itu.
Kemudian tahun 1969 atasan Indonesia memberi tugas baru kepada Franz
Magnis, untuk mendirikan sebuah perguruan tinggi filsafat di Jakarta
bersama beberapa saudara lain dan dengan Ordo Fransiskan. Tugas itu
meneruskan karya almarhum ahli filsafat Profesor Nocolaus Driyarkara, SJ.
Usul pendirian sekolah filsafat sebelumnya sudah pernah dimunculkan
tahun 1967 oleh Profesor Slamet Iman Santoso kepada Pater Soenarja,
seorang Provinsial Serikat Yesus Indonesia. Slamet Iman Santoso pada
tahun 1967 adalah Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, dia
kawan lama Pater Driyarkara. Driyarkara ikut memberikan kuliah di
Fakultas Psikologi UI.
Sekolah tinggi itu mereka beri nama Sekolah Tinggi Filsafat (STF)
Driyarkara, diproyeksikan harus menjadi pusat studi dan penelitian
falsafah di Jakarta. Para Yesuit, Fransiskan muda, dan calon imam harus
belajar di sekolah ini. Sejak permulaan Franz Magnis sudah menggariskan
perguruan tinggi ini terbuka bagi para mahasiswa dari semua agama dan
kepercayaan.
Untuk memberikan kuliah-kuliah psikologi pada semester permulaan
terhadap delapan mahasiswa di ruang tamu biara Ursulin, di Jalan Haji
Agus Salim ketika itu, Franz Magnis berhasil memboyong seorang bekas
murid Pater Driyarkara yakni Doktor Fuad Hasan, orang yang di kemudian
hari dipercaya Pemerintah RI menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Sebanyak dua kali antara tahun 1969 hingga 1971 dan tahun 1973-1985,
Franz Magnis menduduki jabatan sebagai Sekretaris Akademis STF
Driyarkara. Ada waktu yang terpotong, yaitu antara tahun 1971 hingga
1973 yang dia isi dengan mendalami studi filsafat, teologi moral, dan
teori politik di Ludwig-Maximilians, Universitat Munchen, Jerman hingga
mencapai gelar doktor filsafat di tahun 1973. Dia meraih gelar doktor
dengan predikat summa cum laude atau sangat memuaskan dengan karya tulis
mengenai Karl Marx.
Sebagai doktor, sejak tahun 1976 hingga tahun 1990 Franz Magnis diangkat
menjadi dosen luar biasa di Jurusan Filsafat Fakultas Sastra Universitas
Indonesia.
******
Pada tahun 1970 atau tepat sesudah sembilan tahun hidup menetap di alam
Indonesia dirasakan sudah cukup waktunya bagi Franz Magnis untuk
mengajukan permohonan menjadi warga negara Indonesia. Dia datang ke
Indonesia awalnya dengan motivasi membantu gereja. Semua persyaratan dia
penuhi dan dibutuhkan waktu tujuh tahun untuk dikabulkan. Sejak
mengajukan permohonan dia sudah incharge menjadi warga negara Indonesia.
“Tahun 1977 saya disumpah, dan menyerahkan paspor Jerman saya ke
Kedutaan Jerman,” ujar Franz. Nama baru dia adalah Franz Magnis-Suseno,
SJ, ada tambahan nama Suseno di dalamnya. Bersamaan itu dia menanggalkan
kewarganegaraan lama Jerman, sebuah negeri yang selama 24 tahun pertama
hidupnya berkesempatan membentuk diri Franz Magnis. Dia tidak pernah
menyesali pilihan terbaik menjadi warga negara Indonesia sebab langkah
penting itu dia lakukan dengan kesadaran penuh.
Tentang kecocokan dirinya dengan Indonesia, dia berkomentar, “Kalau kita
sendiri tidak kerasan lebih baik pulang daripada terus tidak bisa tenang,
resah, dan sebagainya. Begitu pula kalau jemaat, umat, atau masyarakat
terasa susah dengan kita, ya, juga lebih baik pulang. Tapi, kesan saya
bahwa orang di sini tidak terlalu susah dengan saya. Dan saya sendiri
sangat tertarik mendapat kewarganegaraan baru,” kata Romo Franz Magnis.
Bagi Franz Magnis Indonesia adalah sebuah negara yang amat mengasyikkan
dan menarik. Dia belum pernah menyesal mengambil keputusan untuk datang
ke Indonesia. Termasuk keputusan untuk menjadi warga negara Indonesia.
Dia tertarik akan masyarakat Indonesia yang sangat majemuk. Demikian
pula budayanya yang sangat menyenangkan. Dia paling kenal betul dengan
budaya tradisional Jawa. Sebab dia masuk ke Indonesia lewat “pintu” Jawa,
lewat kultur Jawa. Dia sangat kerasan dengan budaya Jawa. Keberhasilan
Franz Magnis menjadi “orang Jawa” adalah salah satu alasan utama mengapa
dia bersedia sekaligus senang menjadi warga negara Indonesia.
Setelah memperoleh kewarganegaraan Indonesia, dia semakin akrab dengan
dunia pendidikan, khususnya sebagai pengajar filsafat. Dia juga seorang
penceramah laris yang suaranya didengar dimana-mana, serta penulis buku
karangan ilmiah populer produktif. Sejak tahun 1975 hingga 2004 sudah 28
judul buku dia terbitkan. Itu, belum termasuk 400 judul karangan ilmiah
populer. Pada tahun 2004 (sampai Juni) saja dia sudah menerbitkan dua
judul buku, “Mencari Makna Rasionalitas,” diterbitkan oleh Kanisius,
Yogyakarta, serta buku “Menjadi Saksi Kristus di Tengah Masyarakat
Majemuk”, diterbitkan Obor, Jakarta.
Sejak tahun 1979-1984, dia menjadi dosen luar biasa di Fakultas
Psikologi UI. Tahun 1979 dia menjadi dosen tamu pada
Geschwister-Scholl-Institut dari Ludwig-Maximilians-Iniversitat, dan
pada Hochschule fur Philosophie, keduanya di Munchen, Jerman. Tahun
1985-1993 dia menjadi dosen luar biasa di Fakultas Filsafat Universitas
Parahyangan, Bandung.
Tahun 1983-1987 dia kembali menjadi dosen tamu pada Hochschule for
Philosophie, Munchen, serta pada Fakultas Teologi Universitas Innsbruck.
Di STF Driyarkara Romo Magnis pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan
Filsafat Indonesia pada tahun 1987-1990, pejabat Ketua STF Driyarkara
tahun 1988-1990, Ketua STF Driyarkara tahun 1990-1998, dan sejak tahun
1995 hingga sekarang menjabat sebagai Direktur Program Pasca Sarjana STF
Driyarkara.
Selain itu, Franz Magnis adalah dosen luar biasa pada Program Magister
Fakultas Pasca Sarjana Universitas Indonesia sejak tahun 1990 hingga
sekarang. Pada tahun 2000 dia menjadi dosen tamu di Hochschuke fur
Philosophie, Munchen. Dan, pada tahun 2002 Franz Magnis menerima Gelar
Doktor Teologi Honoris Causa dari Fakultas Teologi Universitas Luzern,
Swiss.
Belakangan ini, di usia yang semakin senja dengan segudang pengalaman
dan pengetahuan tentang Indonesia, dia semakin sering diundang ke Jerman
menjadi pembicara berbagai seminar. Dia biasanya memberikan ceramah
tentang Indonesia. Sebelumnya, dia hanya berkesempatan sekali dalam enam
tahun pergi ke Jerman mengunjungi sanak famili selama beberapa bulan.
Belakangan, frekuensi kunjungan ke Jerman semakin sering dia lakukan,
namun singkat-singkat saja, sekitar dua atau tiga minggu. Dalam setahun,
Franz Magnis bisa berkunjung ke Jerman dua atau tiga kali untuk
berbicara dalam seminar. Waktu berkunjung seminar itu, dia perpanjang
untuk mengunjungi keluarga almarhum adik lelaki satu-satunya, serta
keluarga empat adik perempuannya. Ayah dan ibu Franz Magnis sudah
meninggal dunia.
Biasanya setiap kali dia diundang ke Jerman menjadi pembicara dalam
seminar, selalu disediakan tiket pesawat berikut akomodasi oleh pihak
pengundang.
Jika sudah berada di Jerman, pertanyaan yang lebih sering diajukan warga
kepadanya, apakah keadaan Romo baik-baik saja, apakah kerasan tinggal di
Indonesia, apakah menghadapi ancaman seperti bom meledak di dekatnya,
dan sebagainya. Semua pertanyaan itu berdimensi kemanusiaan semata.
Franz Magnis selalu menjawab bahwa dia dan semua orang Indonesia
barangkali sudah tidak takut bom. Sebab, bom bisa saja meledak di mana
saja bukan hanya di Indonesia. “Kalau menjadi kehendak Tuhan, ya kita
yang kena,” kata Romo ringan saja. “Dari dua ratus juta lebih penduduk
Indonesia paling yang kena sepuluh,” tambahnya lagi.
Romo Magnis selalu berujar kepada warga Jerman, bahwa di Indonesia
ancaman lalu lintas biasa jauh lebih berbahaya. Kemudian menyusul
ancaman kejahatan kriminal biasa. “Tapi, mereka terutama, juga
kadang-kadang bertanya apakah saya sebagai Romo Katolik terancam atau
tidak. Saya katakan saya tidak terancam. Saya tidak mengkhawatirkan hal
itu sama sekali. Dan itu tidak akan terjadi kalau kita tidak kebetulan
ada di daerah yang memang perang. Justru, saya akan sangat aman dengan
saudara muslim. Dengan masyarakat muslim saya selalu diterima dengan
amat baik. Sama sekali saya tidak perlu takut, tidak ada itu orang
karena dia seorang pastor katolik lalu dibunuh,” jelas Romo. ►
haposan -marjuka => Lanjut
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|