| |
C © updated 05042009 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
BIODATA
Nama:
PENSETA DR FRIDOLIN UKUR
Lahir:
Tamianglayang, Kalimantan Tengah, 5 April 1930
Meninggal:
Jakarta, 26 Juni 2003
Agama:
Kristen
Jabatan Terakhir:
- Pendeta Emiritus Gereja Kalimantan Evangelis (GKE)
- Rektor Akademi Teologi Gereja Kristen Evangelis (GKE)
Pendidikan:
- SD, Banjarmasin (1942)
- SMP, Banjarmasin (1946)
- SMA, Banjarmasin (1948)
- Sekolah Tinggi Teologi, Jakarta (1956)
- Fakultas Teologi Universitas Basel, Swiss (1965)
- STT Jakarta (Doktor, dengan disertasi Tantang Jawab Suku Dayak, 1971)
Karir:
- Tentara Nasional Indonesia (1946-1950)
- Pendeta Mahasiswa (1956-1958)
- Pendeta Jemaat
Gereja Kalimantan Evangelis (1958-1959)
- Dosen Akademi Teologi (1959-1970)
- Dosen STT Jakarta
- Dosen STT GKE di Banjarmasin
- Sekretaris Umum Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) (1984-1989)
- Pendeta Emiritus Gereja Kalimantan Evangelis (GKE)
- Rektor Akademi Teologi Gereja Kristen Evangelis (GKE)
Aktivitas Lain:
- Penyair
- Kolumnis
Karya:
- Tantang Jawab Suku Dayak (Disertasi), BPK Gunung Mulia, 1971
- Mari Berekreasi, BPK Gunung Mulia, 1961
- Malam Sunyi, BPK Gunung Mulia, 1961
- Darah dan Peluh, BPK Gunung Mulia, 1962
- Jerih dan Peluh, LPS DGI, 1978
- Tuaiannya Sungguh Banyak, BPK Gunung Mulia, 2002
- Wajah Cinta, BPK Gunung Mulia, 2003
- Firman Hidup 61, BPK Gunung Mulia, 2003
Alamat Rumah Keluarga:
Jalan Cipinang Jaya II/55-57, Jakarta Timur
|
|
| |
|
|
|
|
| FRIDOLIN UKUR HOME |
|
|
 |
Fridolin Ukur (1930-2003)
Pendeta Penyair Wajah Cinta
Dr.Fridolin Ukur seorang pendeta penyair. Syair-syair mantan Sekretaris
Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (Sekum PGI) kelahiran Tamiyang Lajang,
5 April 1930, ini sarat dengan tema kemanusiaan (cinta kasih) dan
keagungan Tuhan. Pendeta emiritus Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) yang suka memakai kopiah ini meninggal
di Jakarta, 26 Juni 2003.
Sebelum manjadi pendeta, Fridolin memulai karir
sebagai Tentara Nasional Indonesia (1946-1950). Pernah jadi anggota Divisi IV ALRI (kini
TNI AL), kemudian masuk TNI-AD hingga berpangkat pembantu letnan. Setelah menyelesaikan
sekolah pendeta di Sekolah Tinggi Teologi, Jakarta (1956), ia
ditahbiskan menjadi pendeta.
Dari sumber yang diperoleh TokohIndonesia.Com
dari Gereja Kristen Evangelis (GKE), PGI dan BPK Gunung Mulia, Fridolin
pertama kali bertugas sebagai Pendeta Mahasiswa (1956-1958). Kemudian melayani
sebagai Pendeta Jemaat
Gereja Kalimantan Evangelis (1958-1959) dan Dosen Akademi Teologi (1959-1970)
serta staf di Lembaga Penelitian dan
Studi (LPS) DGI. Tahun 1984-1989, ia dipilih menjabat Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja
di Indonesia (PGI). Selepas itu, ia menjabat Rektor Akademi Teologi Gereja Kristen Evangelis (GKE)
dan menjadi Pendeta Emiritus Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) hingga akhir hidupnya.
Ia juga pernah aktif sebagai Direktur Yayasan Komunikasi Massa (Yakoma)
dan acap
tampil mengisi acara kebaktian di RRI dan TVRI.
Fridolin Ukur, seorang
pendeta yang suka memakai kopiah. Ia seorang pendeta yang humoris dan dekat dengan
anak muda. Seorang pendeta yang tidak hanya larut dalam upaacara ritual,
tepai juga menjadi garam dalam dunia kemanusiaan dan masalah sosial.
Sebagai penyair, Fridolin termasuk penyair Angkatan '66.
Syair-syairnya banyak diterbitkan di berbagai media massa. Terakhir,
juga diterbitkan dalam satu buku berjudul Wajah Cinta (BPK Gunung Mulia,
2003). Puisi-puisi yang ada dalam buku ini merupakan hasil perenungan
dan kisah perjalanan hidup yang dikumpulkan sekian lama.
Kata demi kata dijalin. Kalimat demi kalimat
diuntai menjadi satu nada, satu irama, berjiwa dan bermakna. Ungkapan
hati, jiwa dan perasaaan dituturkan secara apik dan menyentuh hati. Rasa
syukur, cinta, keagungan Tuhan, kepasrahan diri, kasih Tuhan, dan kasih
kepada sesama tertuang melalui kata-kata yang sederhana, namun sarat
makna yang memberi kesejukan di hati pembacanya.
Ia menamatkan sekolah dari SD sampai SMA di
Banjarmasin (1942 sampai 1948). Semasa remaja, ia juga sempat ikut
berjuang mempertahankan kemerdekaan sebagai tentara (1946-1950). Namun,
'jiwa pendeta' yang sudah terasuh dalam diri anak seorang penilik
sekolah ini tampaknya lebih membara. Sejak kecil ia dan
saudara-saudaranya telah menerima pendidikan agama dari orangtuanya.
Ditambah lagi dengan pertemuannya dengan pendeta Ethel Bert Saloh,
seorang pendeta pribumi suku Dayak, yang menjadi inspirasi dan memperdalam pengetahuan agama
Fridolin.
Kemudian, berkat dukungan orang tua, ia pun masuk
kuliah Sekolah Tinggi Teologia Jakarta (STT Jakarta). Dua tahun
pertama, orang tuanya terus mengirim uang untuk membiayai kuliahnya.
Tetapi setelah pihak STT Jakarta melihat motivasi dan kesungguhannya
menjadi pendeta, ia diberi beasiswa. Ia menyelesaikan pendidikan hingga
meraih gelar sarjana theologia (STh) tahun 1956.
Kemudian ia meraih gelar Doktor Theologia dari STT Jakarta, dengan disertasi Tantang Jawab Suku Dayak,
1971. Berupa hasil penelitian
antropologi budaya yang kemudian diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia, 1971
dalam bentuk buku dengan judul Tantang Jawab Suku Dayak.
Fridolin juga pernah memimpin majalah Fiducia yang diterbitkan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).
Ia juga kolumnis di beberapa surat kabar nasional. Tulisan-tulisannya
sangat menarik dan bermakna. Namanya juga mulai mencuat di dunia
internasional sebagai penulis setelah tahun 1980, ia menjadi editor tamu International Review of Mission,
yang diterbitkan Dewan
Gereja Sedunia, dalam Sidang Raya di Melbourne. Saat itu, ia sempat
keliling Australia.
Fridolin juga menulis beberapa buku. Satu di
antaranya, berjudul: Tuaiannya Sungguh Banyak, diterbitkan BPK Gunung Mulia, 2002.
Buku ini memaparkan keberadaan Gereja Kalimantan Evangelis (GKE), yang sebelumnya bernama
Gereja Dayak Evangelis (GDE). Gereja ini mulai dirintis dengan kedatangan para
penginjil Barat, mula-mula dari Zending Basel, kemudian dilanjutkan oleh
Zending Barmen.
Fridolin Ukur, sebagai seorang putra Kalimantan,
berupaya mengungkapkan
pergumulan para penginjil Barat itu, yang kemudian dilanjutkan para pelayan
gerejawi pribumi. Buku ini menguraikan betapa karya Tuhan yang amat besar di Indonesia sehingga kita pun
dapat berseru, "Tuaiannya sungguh banyak!"
Fridolin meninggal di Jakarta, 26 Juni 2003 dan dimakamkan
daerah kelahirannya, Tamiang Layang,
Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah.
►crs
*** TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|