|
|
 |

Nama Panggilan:
Bu Kasur
Nama Asli:
Sandiah
Lahir:
Jakarta, 16 Januari 1926
Meninggal:
Jakarta, 22 Oktober 2002
Dikebumikan:
Kaliori, Purwokerto, 23 Oktober 2002
Suami:
Suryono alias Pak Kasur
Pendidikan:
MULO 1930
Karir:
Pencipta Lagu anak
Pendiri dan Pendidik TK Mini Pak Kasur
Pengasuh dan Pembawa acara anak di berbagai televisi dan radio
Penghargaan:
Bintang Budaya Para Dharma (1992)
Penghargaan dari Presiden dalam rangka Hari Anak Nasional (1988)
Centro Culture Italiano Premio Adelaide Ristori Anno II dari Pemerintah
Italia (1976).
|
|
Bu ‘Sandiah’ Kasur
Legenda Tokoh Pendidikan Anak
Siapa tak kenal nama Bu Kasur. Pengarang lagu anak-anak yang
legendaris dan tokoh pendidikan anak. Ibu yang bernama asli Sandiah ini
meninggal dunia dalam usia 76 tahun hari Selasa (22/10/02) sekitar pukul
16.00 di Rumah Sakit (RS) Cikini Jakarta, meninggalkan lima anak dan 12
cucu. Namun, nama dan karyanya tepat hidup dan sudah menjadi sebuah legenda dalam dunia
pendidikan anak.
Sandiah mulai dikenal sebagai Ibu Kasur setelah mengasuh Taman Putra dan
Taman Pemuda di Jakarta bersama suaminya, Pak Kasur. Mereka menikah ketika
mengungsi di Jogjakarta pada 29 Juli 1946. Panggilan Kasur berasal dari
kata Kak Sur, sebutan akrab Pak Kasur yang bernama asli Suryono. Ibu Kasur
tamatan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di akhir tahun 1930-an.
Setelah Pak Kasur meninggal, lembaga pendidikan anak itu berubah menjadi
TK Mini Pak Kasur tahun 1968 yang kini mempunyai lima cabang di kawasan
Jabotabek, yaitu di Cikini, Cipinang, dan Pasar Minggu (ketiganya di
Jakarta), serta di Kemang (Bekasi), dan Banjar Wijaya (Tangerang).
Jenazah almarhumah disemayamkan di rumah duka, Jalan Cikini V, Jakarta
Pusat. Rumah yang didiami Ibu Kasur tersebut sekaligus menjadi Taman
Kanak-kanak (TK) Mini Pak Kasur yang dikelola almarhumah sejak tahun 1968
bersama Pak Kasur-yang meninggal pada tahun 1992. Dikebumikan di Kaliori,
Purwokerto, Jawa Tengah, Rabu 23/10/02. Almarhumah mengidap penyakit gula
dan darah tinggi.
Sampai menjelang akhir hayat, Ibu Kasur selalu ingin mendidik anak-anak.
Meski belakangan tidak lagi langsung mengajar, namun masih selalu secara
rutin mengunjungi TK Mini Pak Kasur. Ia selalu akrab dengan anak-anak.
Selalu mengajak tos kepada anak-anak untuk memberi salam.
Kamis sepekan sebelum meninggal, Ibu Kasur masih menemani anak-anak dari
lima cabang TK Mini Pak Kasur bertamasya ke Taman Safari, Cisarua, Jawa
Barat. Ia masih tampak berseri-seri mengikuti acara dan sempat berfoto
bersama, meski harus duduk di kursi roda. Ia terlihat gembira dengan wajah
cerah. Sama sekali tidak terlihat lelah.
Besoknya, Jumat siang, masih mengikuti acara presentasi produk obat dengan
tema "Sehat di Hari Tua" di Hotel Ambhara Jakarta. Minggu malam, juga
masih menghadiri perjamuan perkawinan Guruh Soekarnoputra-Sabina.
Sebagian besar hidup tokoh pendidikan anak kelahiran Jakarta 16 Januari
1926 ini tercurah pada anak-anak. Selain mencipta lagu dan tampil di
berbagai panggung acara televisi dan siaran radio, ia juga mengelola lima
Taman Kanak-kanak "Mini" Pak Kasur yang berlokasi di kawasan Cikini (sekaligus
rumah tinggal Bu Kasur), Cipinang Indah, Pasarminggu, Kemang Pratama di
Jakarta, dan Banjar Tangerang.
Sudah banyak alumninya yang sudah menjadi orang besar. Diantaranya
Presiden Megawati, Guruh dan Hayono Isman (mantan Menpora) serta Ateng (pelawak).
Juga hampir seluruh cucu bahkan cicit H.M. Soeharto, mantan presiden,
sekolah di TK Mini Pak Kasur.
TK Mini berdiri sejak 1965 setelah Pak Kasur bersama keluarganya pindah ke
Jakarta dari Bandung. Pada 1968 Pak Kasur purnakarya dari Depdikbud dalam
kapasitasnya sebagai anggota Badan Sensor Film (BSF), Semula TK itu berada
di rumahnya di Jln. H. Agus Salim dengan Taman Kanak-kanak, Taman Putera,
dan Taman Pemuda. Namun, Taman Putera dan Taman Pemuda tidak dikembangkan,
bahkan ditutup. Untuk menampung anak-anak dari berbagai kelompok umur, TK
Mini dibagi dalam tiga jenjang, yaitu "Parkit" untuk anak usia tiga tahun,
"Kutilang" untuk anak empat tahun, dan "Cendrawasih" untuk anak lima tahun.
Bu Kasur tidak menganal kata bosan berkecimpung dalam dunia pendidikan
dasar anak-anak. Menurutnya, ada kenikmatan tersendiri ketika mengamati
bagaimana anak-anak itu berkembang dari hari ke hari. Kelucuan, kepolosan
anak-anak membuatnya lebih 'hidup'.
Ada dinamika yang membuat dirinya bertambah 'kaya'. Seminggu sekali
diadakan semacam upacara bendera untuk memperkenalkan anak pada lambang
negara. Suatu kali ada seorang murid TK yang terlambat mengikuti upacara.
Si anak tidak mau bergabung dan minta pulang karena terlambat. Tapi ibunya
memaksa sampai anak itu menangis. Usut punya usut ia terlambat karena
mobil harus mengantar ayahnya dulu ke kantor. “Lalu saya bilang pada si
ibu, sifat malu datang terlambat itu mestinya dipelihara. Usul saya biar
nanti tidak terlambat, si anak didrop lebih dulu, baru bapaknya. Bapaknya
'kan tidak menangis kalau terlambat masuk kantor? He-he-he ...," ceritanya.
Tidak jarang Bu Kasur mendapatkan persepsi keliru dari orang tua murid
tentang cara dia mengajar. Suatu ketika, di lantai kelas ia menebarkan
permen dengan perintah agar anak-anak memunguti permen itu
sebanyak-banyaknya. Anak-anak pun kontan berebut. "Tahu-tahu ada ibu yang
menunggui anaknya sekolah nyeletuk, 'Jangan ikut rebutan permen itu, nanti
pulang sekolah ibu belikan coklat.'
"Waduh! Lalu saya jelaskan pada si ibu bahwa apa yang saya lakukan itu
untuk melakukan observasi, dan hasilnya nanti akan saya pakai sebagai
bahan untuk mengembangkan sifat-sifat positif anak. Ketika anak-anak
mendapat perintah untuk mengumpulkan permen sebanyak-banyaknya, ada yang
mengambil satu-dua, balik lagi, ambil lagi. Tapi ada yang kerjanya efisien
dengan meraup sebanyak-banyaknya, lalu ditaruh di ujung kemejanya, baru
diletakkan di meja saya. Dari situlah saya melakukan observasi," terang Bu
Kasur. Ia juga mengatakan, sistem belajar sambil bermain bisa mendeteksi
secara dini kalau ada kelainan kejiwaan seperti fobi ketinggian, fobi
lingkungan, atau kelainan buta warna pada anak.
Bahasa Inggris juga diajarkan di sekolah TK Mini. Namun, itu sekadar
pengenalan sifatnya. "Hanya seminggu sekali dalam satu jam. Tujuannya agar
anak terbiasa mendengar bahasa yang lain dari bahasa ibunya. Biasanya
diajarkan lewat lagu. Kalau lagunya hafal, lama-lama artinya juga.
Lagu-lagu Pak Kasur pun tetap dipakai, karena lagu-lagu Bapak
berpengetahuan," kata Bu Kasur.
Pada tahun 1950-an, bersama Pak Kasur, almarhumah mengasuh siaran
anak-anak di RRI Jakarta. Ketika TVRI berdiri pada tahun 1962, Ibu Kasur
mengasuh acara serupa, yaitu Arena Anak-anak dan Mengenal Tanah Airku.
Pada awal tahun 1970-an, Ibu Kasur dikenal sebagai pengasuh acara Taman
Indria di TVRI. Ketika televisi swasta muncul, almarhumah juga hadir di
acara Hip Hip Ceria di RCTI.
Seperti halnya Pak Kasur, Ibu Kasur juga dikenal sebagai pencipta lagu. Di
antara lagu ciptaan almarhumah yang terkenal sampai sekarang adalah
Kucingku, Bertepuk Tangan, dan Main Sembunyi. Sekadar mengingatkan, inilah
lirik awal lagu Main Sembunyi : ... Siapa itu di belakang pintu/ sedang
sembunyi/ perutnya gendut, hidungnya mancung/ Tentu si Honi.
Belakangan, dalam kaset lagu anak-anak dari Ibu Kasur, nama Honi berubah
menjadi Dodi. Dan, rupanya nama dalam lagu itu bisa berubah sesuai dengan
situasi. Asal tahu saja, nama Honi diambil dari murid Ibu Kasur yang kini
berprofesi sebagai dokter di Jakarta.
Tak seberapa banyak memang karya lagu ciptaan Bu Kasur dibandingkan dengan
karya-karya suaminya yang mencapai sekitar 140 lagu. "Tak sampai 20 lagu
saya," kata Bu Kasur tentang jumlah karyanya.
Apalagi di usianya yang sudah kepala tujuh (lahir 16 Januari 1926 di
Jakarta), ia nyaris tidak lagi memproduksi lagu. Untuk ukuran wanita
seusianya, Bu Kasur masih tergolong cukup energik; menerima tetamunya yang
hampir tiap hari mengalir ke rumahnya, terutama orang tua murid; masih
giat mengikuti pelbagai acara (seperti berdarmawisata) yang
diselenggarakan oleh sejumlah Taman Kanak-kanak di bawah Yayasan Setia
Balita yang dipimpinnya. Ia juga menjadi pembicara seminar di berbagai
tempat, atau menjadi juri di pelbagai lomba kreativitas maupun menyanyi
lagu anak-anak.
Senyumnya yang khas mengembang saat pikirannya menerawang ke masa hampir
empat puluh tahun lalu ketika wanita itu masih membawakan acara Taman
Indria, Arena Anak-anak, dan Mengenal Tanah Air di TVRI. "Jadi, sejak 1962
saya sudah menjadi pengasuh acara-acara itu di TVRI," kenangnya.
Bu Kasur memang dikenal karena mengasuh sejumlah acara anak-anak di
televisi dan juga radio. Dunia anak-anak sepertinya tak bisa lepas dari
kehidupan Bu Kasur dan juga suaminya. Dengan penuh kesabaran dan ketulusan,
pasangan suami-istri itu membimbing anak-anak belajar sambil bermain. Juga
bernyanyi!
Belajar sambil bermain, bermain sambil belajar. Itulah kata kunci yang
melandasi pola pikir dan pola tindak yang senantiasa dihayati dan
dilaksanakan hingga sekarang dalam mengelola sekolah Taman Kanak-kanaknya.
"Lagu Sayang Semua, misalnya, itu mengandung unsur pembelajaran sekaligus
pendidikan meski sederhana. Lagu itu lahir karena saya ingin mengajar
anak-anak mengenali dan menanamkan rasa cinta kepada anggota keluarga
sambil memperkenalkan angka-angka," tutur Bu Kasur sambil mengaku terkejut
campur bahagia ketika pihak PT Unilever memberikan semacam royalti
kepadanya karena lagu itu dipakai sebagai jingle atau theme song dalam
salah satu iklan susu mereka.
Kesederhanaan, demikian Bu Kasur, memang mutlak menjadi karakteristik lagu
anak-anak. Sederhana lagunya, sederhana syairnya. Sampai-sampai Bu Kasur
berusaha sebisa mungkin menghindari pemakaian huruf "r" pada syair-syair
lagunya seperti dipesankan dan dilakukan mendiang Pak Kasur. "Alasannya,
huruf 'r' itu 'kan termasuk huruf yang relatif sulit di lidah anak-anak,"
terang Bu Kasur.
Semangat hidup maupun dedikasinya terhadap dunia anak-anak terus menggebu
sampai pada tahun 1992 obor spirit yang menyala-nyala itu nyaris padam tak
berbara ketika sang suami tercinta dipanggil menghadap Tuhan. Wanita
keturunan Jawa itu terpuruk. Setahun lamanya, nyaris tak ada yang ingin
dilakukannya. "Saya kehilangan semangat," tutur Bu Kasur.
Bahkan selama sang suami menderita sakit sebelum meninggal pun, ia sudah
memutuskan berhenti dari seluruh kegiatannya di berbagai program televisi
asuhannya serta kegiatan lain. "Semua waktu, tenaga, dan perhatian saya
curahkan hanya untuk merawat Pak Kasur," ujar nenek sebelas cucu ini.
Untunglah, kelima putra-putrinya - Sursantio (lahir 1948), Suryaningdiah
(1950), Suryo Prabowo (1951), Suryo Prasojo (1958), dan Suryo Pranoto
(1962) - terus memompa semangatnya untuk bangkit. Begitu juga sobat,
handai tolan, maupun para orang tua murid dan para guru sekolah TK-nya.
Mereka silih berganti mencoba membongkar kebekuan Bu Kasur agar kembali
meneruskan perjuangannya yang telah dirintis bersama Pak Kasur.
Bu Kasur sendiri sebenarnya tak pernah bermimpi kalau sebagian hidupnya
bakal tertumpah untuk anak-anak. Sebagai anak sulung dari lima bersaudara,
dia memang menerima kewajiban mengurus adik-adiknya. "Apalagi saya ini
enggak punya latar belakang disiplin ilmu tertentu. Kalau ada yang bilang
saya ini autodidak, mungkin ada benarnya, ya?" ujar wanita yang mengaku "hanya"
lulusan sekolah setingkat SMU di zaman pendudukan Jepang dulu.
Semua itu tidak lain berkat dorongan Pak Kasur, yang dia anggap guru
besarnya. "Setelah menikah dengan Pak Kasur, saya sering diajak terlibat
dengan apa yang dikerjakannya. Waktu zaman Belanda, dia seorang guru HIS.
Begitu pula saat menjadi pegawai Departemen Penerangan dan Pak Kasur
sering mengumpulkan anak-anak di halaman rumah untuk siaran RRI," kata Bu
Kasur yang menikah setahun setelah Indonesia merdeka, 1946.
Mula-mula memang dirasakannya berat ketika ia "dipaksa" Pak Kasur untuk
menggantikannya siaran di RRI setiap kali suaminya sedang berhalangan, ke
luar kota. "'Kamu bisa. Kamu harus bisa, sebab kamu mesti bantu saya' kata
Bapak. Memang saya sempat gemetaran, grogi, dan ngomong tersendat-sendat
waktu pertama kali siaran. Tapi syukurlah, lama-lama bisalah," kenangnya
saat mengawali debutnya sebagai pengasuh acara anak-anak di media massa
elektronik itu.
Bu Kasur dulu juga bekerja. Ia bertemu dengan pemuda Soerjono ketika
sama-sama menjadi pegawai di Kantor Karesidenan Priangan, Bandung. "Tapi
setelah punya anak, saya minta izin lagi untuk bekerja. Tetapi Bapak
bilang, 'Boleh, bagus itu. Cuma kalau kamu kerja, aku yang di rumah. Itu 'kan
anak kamu dan anakku, masa jadi anak simbok.' Lewat cara itu, dia melarang
dengan bijaksana. Saya enggak jadi marah karena dilarang. Maka untuk
mengisi waktu, saya menulis di majalah anak-anak," cerita Bu Kasur yang
kini mengasuh salah satu rubrik di Majalah Bocil terbitan Gramedia Majalah.
Bijaksana. Itulah konon yang menjadi salah satu daya pukau pemuda Soerjono
bagi pemudi Sandiah alias Bu Kasur. Sikap itu pula yang menjadi pegangan
untuk menjalankan fitrah hidupnya hingga kini, termasuk dalam mendidik
anak-anak.
"Saya mencoba meneladaninya. Kalau Bapak mengkritik atau memberi nasihat
kepada siapa pun, tidak pernah bikin orang sakit hati, menang tanpa
ngasorake (maksud kesampaian tanpa merendahkan martabat orang - Red.).
Ketika mengkritik sambil menuding-nuding dengan jari telunjuk, kita sering
lupa bahwa jari tengah, jari manis, dan kelingking mengarah ke tubuh kita.
Itu sebenarnya mengandung falsafah bahwa mengkritik boleh, tapi kita harus
lebih banyak mawas diri sebelum mengkritik orang lain," kata Bu Kasur.
Satu lagi wejangan suaminya yang tak pernah ia lupakan, "Kalau manis
jangan langsung ditelan, kalau pahit jangan serta merta dimuntahkan."
Maksudnya, kata Bu Kasur, kita mesti melihat proses, melakukan analisis,
membuat kesimpulan, baru kemudian menentukan sikap dan tindakan yang akan
dilakukan ketika menghadapi suatu peristiwa atau menyelesaikan persoalan.
Penghargaan
Atas jasanya di dunia pendidikan anak-anak, Ibu Kasur pernah menerima
sejumlah penghargaan, antara lain Bintang Budaya Para Dharma pada tahun
1992, penghargaan dari Presiden dalam rangka Hari Anak Nasional (1988),
serta Centro Culture Italiano Premio Adelaide Ristori Anno II dari
Pemerintah Italia pada tahun 1976.
Terakhir Bu Kasur juga mengantungi penghargaan sebagai pembawa acara
anak-anak legendaris di televisi. Penghargaan tersebut dipajang di ruang
kerja Ibu Kasur. Di ruang yang sama terpampang juga foto-foto Pak Kasur.
Namun, segala penghargaan itu, apa pun bentuknya, tidak lantas membuat Bu
Kasur puas dan berbangga diri, apalagi menepuk dada.
Ia merasa belum apa-apa. Ia hanya menjalankan peran sebagai ibu dan ingin
tetap dekat dengan dunia anak. Malah ia berharap ada yang dapat
melanjutkan perjuangan Pak Kasur. Sekarang orang-orang yang seperti zaman
dulu sudah langka. Mereka memang bagus-bagus, tapi terlalu berorientasi
pada komersialisme. Dulu Pak Kasur dibilang terlalu idealis.
Ia mengaku, apa yang dia kerjakan sampai saat ini tidak berbeda dengan
ketika ia mengasuh putra-putrinya sendiri. "Anak-anak saya didik lewat
lagu atau tulisan. Saya tekankan etika, estetika, etos kerja, dan
kreativitas. Kita bisa mendidik anak secara lebih mudah dengan menggugah
kreativitas mereka," tutur Bu Kasur.
Semasa hidup, almarhum sempat melanjutkan obsesi suami yang tertunda,
yakni membuat film anak-anak. Lewat gagasannya, yang kemudian digarap
Syamsudin, seorang juru kamera sekaligus produser, obsesi itu terwujud
dengan diproduksinya film berjudul Amrin Membolos. *** Tokoh Indonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia),
dari berbagai sumber.
|
|