| |
C © updated 16021009 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Siti Rahmiati Hatta
Lahir:
Bandung, 16 Februari 1926
Meninggal:
Jakarta, 13 April 1999
Agama:
Islam
Suami:
Proklamator Bung Hatta (Nikah, Bogor, 18 November 1945)
Anak:
- Meutia Farida
- Gemala
- Halida Nuriah
Pendidikan:
- Christelijke Lyceum (setingkat SMA)
- Belajar bahasa-bahasa asing, sejarah, dan ilmu politik dari tutor
Alamat Rumah Keluarga:
Jalan Diponegoro 57, Jakarta Pusat |
|
| |
|
|
|
|
| RAHMI HATTA HOME |
|
|
 |
Siti Rahmiati Hatta (1926-1999)
Pendamping Setia Bung Hatta
Siti Rahmiati Hatta, puteri bangsa kelahiran Bandung, 16 Februari 1926,
menikah dengan Mohammad Hatta (Proklamator dan Wakil Presiden RI pertama)
di Megamendung, Bogor, 18 November 1945. Ia pendamping Bung Hatta, setia
sepanjang hidup, mengukir sejarah Indonesia dari belakang panggung. Siti
Rahmiati meninggal di Jakarta, 13 April 1999.
Siti Rahmiati Hatta menyelesaikan pendidikan Christelijke Lyceum (setingkat
SMA) di Bandung. Pertama kali bertemu dengan Bung Hatta pada saat ia
berusia 17 tahun. Saat itu (1943), Bung Hatta bersama Bung Karno baru
kembali dari pengasingan. Rema ja putri Rahmi dan adiknya Raharty (putri
Rachim), keduanya sebagai aktivis Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI), ikut
dalam upacara penyambutan di rumah Mr Sartono, tokoh pergerakan nasional.
Saat itu, Rahmi dan Raharty bersalaman dengan Bung Hatta dan Bung Karno.
Dua tahun kemudian, hanya beberapa saat setelah Proklamasi Kemerdekaan
RI, Bung Karno melamarnya untuk bersedia mendampingi Bung Hatta. Rahmi
dan Hatta pun resmi menikah di Megamendung, Bogor, 18 November 1945,
hanya tiga bulan setelah proklamasi. Pernikahan ini dianugerahi tiga
anak: Meuthia, Gemala, dan Halida. Rahmi mendampingi Bung Hatta (hingga
wafat di Jakarta, 14 Maret 1980) selama 35 tahun, dalam senang dan susah.
Sambil mendampingi Wakil Presiden Bung Hatta, Rahmi pun masih
menyempatkan diri memperdalam beberapa bahasa asing, sejarah, dan ilmu
politik di bawah bimbingan tutor pribadi. Ia juga punya perhatian
mendalam pada pengetahuan dan kesenian, khususnya seni lukis. Sejak
remaja hingga menikah dan menjanda, juga aktif selalau di bidang sosial.
Ia seorang yang sangat peduli pada orang lain.
Seorang ibu yang bijaksana dan mampu mengurus keluarga dengan baik serta
setia dan kuat menyimpan segala kesusahan dan kesedihan. Ia isteri yang
sungguh sepadan dengan Bung Hatta. Kendati berusia 24 tahun lebih muda
dan memiliki latar belakang yang sangat berbeda dengan Bung Hatta (seorang
ilmuwan dan politikus ternama), Rahmi yang saat menikah berusia 19 tahun,
mampu berperan sebagai pendamping sepadan.
Rahmi selalu setia dan memberi dukungan kepada Bung Hatta, sang pembesar,
tapi hidup sangat bersahaja, bersih, bahkan akan lebih memilih merugikan
dirinya sendiri ketimbang merugikan negara.
Sebagai contoh, dari sekian banyak pengalaman Rahmi mendamping Bung
Hatta. Suatu ketika, tahun 1950-an, Rahmi ingin membeli sebuah mesin
jahit dari tabungan mereka selama bertahun-tahun. Tiba-tiba pemerintah
mengumumkan pemotongan uang (Oeang Republik Indonesia). Rahmi mengeluh
kenapa Hatta—saat itu menjabat wakil presiden RI—tidak membisikkan hal
itu kepadanya.
Bung Hatta, suaminya, hanya menjawab "Yoeke, rahasia negara tidak ada
sangkut-pautnya dengan usaha memupuk kepentingan keluarga," ujar Hatta,
sebagaimana dituliskan Rahmi dalam buku Bung Hatta, Pribadinya dalam
Kenangan (memoar yang diterbitkan 1979).
Termasuk pengalaman saat Bung Hatta hidup dalam pengasingan di Bangka,
tatkala Meuthia masih berusia 21 bulan, sebagai salah satu tahap yang
berat dalam hidup perkawinan mereka. Rahmi pendamping setia dan sepadan,
tidak pernah meminta lebih dari yang diberikan kepadanya. Hidup
bersahaja, bersih, tenang, serta peduli dan berguna bagi orang lain.
Bayangkan, pernah suatu ketika, saat Rahmi menerima bunga dari uang
simpanannya di bank, ia mendengar seorang kerabatnya akan menunaikan
ibadat haji. Uang bunga simpanan itu langsung diberikannya semua, bahkan
masih ditambah lagi dengan uang yang lain. Rahmi sendiri, bersama Bung
Hatta telah menunaikan ibadat haji pada 1952.
Kebersahajaannya juga terlihat ketika Rahmi mendapat hadiah sebuah rumah
dari negara dengan luas bangunan 615 mu22, dan luas tanah 2.000 mu22. Ia
sangat haru. Namun, rumah pemberian negara itu agaknya terlalu besar
bagi keluarganya, sehingga lebih baik digunakan untuk
keperluan-keperluan sosial. Itulah Rahmi yang hidup bersahaja, bersih,
tenang, serta peduli dan berguna bagi orang lain, hingga ajal
memanggilnya di Jakarta, 13 April 1999 dan dikebumikan di pekuburan
Tanah Kusir. ►Hotsan, Ensiklopedi Tokoh Indonesia (TokohIndonesia.com)
(dari berbagai sumber, terutama www.pdat.co.id/hg/apasiapa/html/S/ads,20030626-29,S.html).
|
|