|
|
 |

Nama:
Yudhi Komarudin, MBA
Lahir:
Makassar, Sulawesi Selatan, 25 Mei 1956
Pendidikan:
Koperasi Audit di Jerman tahun 1985.
Strata-1 Sekolah Tinggi Ekonomi Indonesia jurusan Akuntansi (1988)
Master of Business Administration (MBA) dari perguruan tinggi di Jakarta
yang berasosiasi dengan Luton University of London tahun 1998
Karir:
Konsultan dan auditor pada PT Freidrich Ebert Stiftung Auditing Management
and Auditing Project selama 4 tahun (1981-1985)
Auditor di kantor akuntan Hadi Sutanto Correspondence
PricewaterhouseCooper dari tahun 1985-1988.
Finance Manager di PT Wisata Triloka Buana (1988-1991), anak perusahaan
Mercu Buana Group.
Corporate Secretary dan Tax Manager di PT Sepatu Bata tahun 1991
Direksi PT Sepatu Bata mulai tahun 1997.
|
|
Yudhi Komarudin, MBA
Menapaki Langkah Sebagai Leader
Direktur PT Sepatu Bata ini menapaki langkah sebagai leader dengan bekerja
keras dan profesional. Ia memulai karir sebagai konsultan dan auditor. Di
mata pria yang dikenal sebagai pekerja keras ini, karier adalah proses
yang mutlak harus dilalui. Menurutnya tidak ada jabatan yang didapat
secara instan. Ia memang seorang CEO yang sudah terasah karena sejak
kuliah sudah bekerja.
Pria yang bernama lengkap Yudhi Komarudin yang dilahirkan di Makassar,
Sulawesi Selatan pada 25 Mei 1956, ini memulai karier sebagai konsultan
dan auditor koperasi pada perusahaan yang menjadi konsultan Departemen
Koperasi PT Freidrich Ebert Stiftung Auditing Management and Auditing
Project selama 4 tahun (1981-1985).
Selepas itu ia menjadi auditor di kantor akuntan Hadi Sutanto
Correspondence PricewaterhouseCooper dari tahun 1985-1988. Selanjutnya,
menjadi Finance Manager di PT Wisata Triloka Buana (1988-1991), anak
perusahaan Mercu Buana Group.
Kariernya di industri sepatu ia mulai ketika masuk sebagai Corporate
Secretary dan Tax Manager di PT Sepatu Bata tahun 1991. Selanjutnya masuk
menjadi salah satu jajaran direksi PT Sepatu Bata mulai tahun 1997.
Ia mengenyam pendidikan Strata-1 dari Sekolah Tinggi Ekonomi Indonesia
jurusan Akuntansi dan lulus tahun 1988. Gelar Master of Business
Administration (MBA) ia raih tahun 1998 dari perguruan tinggi di Jakarta
yang berasosiasi dengan Luton University of London. Yudhi sempat pula
mengecap pendidikan Koperasi Audit di Jerman tahun 1985.
Ia seorang manajer yang memiliki kemauan kuat. “I’m Not A Salary’s Man.
Jika tidak bisa sampai umur 40 tahun menjadi direksi, saya akan berhenti
menjadi pegawai,” tekadnya ketika masih berumur di bawah 40 tahun.
Keyakinan inilah yang membawanya duduk di jajaran direksi PT Sepatu Bata
Tbk.
Tentu saja hal itu didukung dengan tekad yang kuat serta diasah oleh
pengalaman kerja yang cukup lama. Di mata pria yang dikenal sebagai
pekerja keras ini, karier adalah proses yang mutlak harus dilalui. Dalam
kamus dirinya tidak ada jabatan yang didapat secara instan. Hal demikian
dapat dimaklumi mengingat dirinya sudah ditempa karena sejak kuliah, dia
sudah mulai bekerja.
“Saya pikir semua orang harus begitu. Dan kalau ingin maju dia harus
mencoba sesuatu yang lain. Ini penting supaya memberikan motivasi atau
dorongan. Agar hidup ini tidak statis,” ujar Yudhi.
Beruntunglah PT Sepatu Bata Tbk memiliki pria kelahiran Makassar, 46 tahun
silam ini. Dalam pasang surut dan terpaan krisis ekonomi, Yudhi sukses
turut membawa Sepatu Bata melewati semua itu.
Kehadiran Bata di Indonesia mulai pada 1931. Awalnya sebagai distributor
sepatu, lalu menjadi importir sekaligus distributor. Bata sendiri
merupakan merek atau brand yang diambil dari nama pendiri perusahaan itu,
Thomas Bata. PT Sepatu Bata di Indonesia adalah bagian dari BSO (Bata Shoe
Organisation) yang berkantor pusat di Toronto, Kanada. Saat ini Bata
tersebar di 100 negara dan memiliki 60 pabrik.
Sementara di Indonesia perusahaan itu memiliki dua pabrik yakni di
Kalibata, Jakarta dengan kapasitas 10 juta pasang dan satu lagi di
Purwakarta berkapasitas 5 juta pasang. Produksi saat ini diperkirakan
antara 7,6 - 7,9 juta pasang. Dengan 440 toko atau gerai yang dimiliki,
tahun 2001 perseroan itu berhasil menjual sebanyak 12 juta pasang sepatu
dan sandal, sama seperti tahun 2000. Nilainya mencapai Rp 407,89 miliar di
tahun 2001 dan sebelumnya Rp 368,04 miliar (naik 11 persen). Dari segi
aset, sampai akhir tahun 2001 PT Sepatu Bata memiliki aset senilai Rp
222,91 miliar, meningkat dibandingkan tahun 2000 yang besarnya Rp 207,84
miliar.
Kakek Angkat
Ketika masuk ke Sepatu Bata di tahun 1991, Yudhi mengaku tidak banyak
berpikir panjang. Merasa jam terbang sudah cukup sebagai konsultan di
PriceWaterhouseCoopers, ia merasa saatnya untuk mencoba pekerjaan yang
berbeda. Gayung bersambut, ada tawaran dari Sepatu Bata. Meski tidak
mengetahui banyak tentang industri sepatu, dalam hatinya timbul keinginan
untuk mencoba saja terlebih dulu.
Ternyata pilihannya tidak salah. Berada di lingkungan Sepatu Bata dirinya
mengaku merasa cocok dengan visi yang diusung oleh perusahaan, yakni
berupaya memberikan sesuatu kepada negara dan lingkungan di mana
perusahaan beroperasi.
Barangkali visi ini pula yang membuat Sepatu Bata di Indonesia mampu
mencapai usia 71 tahun. Usia yang secara tegas menorehkan derap langkah
Bata di percaturan industri sepatu nasional. Seperti juga Yudhi, bagi
sebagian besar karyawan, visi dan kultur perusahaan juga dianggap pas.
Banyak karyawan lebih dari satu generasi bekerja di Sepatu Bata, bahkan
ada yang selama 3 generasi tetap setia mengabdi pada perusahaan itu. Jadi
kalau sekarang karyawan, bapaknya dulu bekerja dan bahkan kakeknya juga
dulunya bekerja di Sepatu Bata.
“Tahun 1988 kita pernah dapat penghargaan Upakarti mengenai anak angkat.
Tahun 1994 salah satu anak angkat kita CV Mulia mendapat penghargaan dari
pemerintah. Jadi saya pernah bergurau kepada Menperindag waktu itu Tunky
Ariwibowo bahwa kita ini sebenarnya sudah bukan ayah angkat lagi melainkan
kakek angkat,” ujarnya dengan bangga.
Bagi masyarakat Indonesia, merek dagang Bata sudah sangat dikenal. Namun
sayangnya, selama ini citra Bata itu adalah sepatu murah. Citra kurang
mengenakkan itulah yang coba dihilangkan oleh Yudhi bersama PT Sepatu
Bata.
Yudhi dan manajemen Sepatu Bata terus berupaya memberikan pelayanan yang
baik kepada golongan menengah ke bawah, pasar yang ditargetkan oleh
perusahaan.
Sepatu Bata memiliki misi memberikan sepatu yang murah dan baik,
berkualitas serta memberikan pelayanan sebaik mungkin kepada langganan.
Pelayanan tersebut diusahakan diberikan tepat waktu (on time).
Berkat upaya itu Sepatu Bata dapat tumbuh rata-rata sebesar 10-15 persen,
kecuali pada tahun 1998 saat ada krisis ekonomi melanda negeri ini. Selama
dua tahun terakhir, 2000-2001, PT Sepatu Bata mencatat laba bersih yang
relatif konstan. Tahun 2001 laba bersih sebesar Rp 63,47 miliar sedangkan
tahun 2000 besarnya Rp 63,32 miliar. Dengan prestasi tersebut, perusahaan
berhasil membagikan dividen kepada para pemegang saham sebesar Rp 3.550/lembar
saham, lebih tinggi dibandingkan dividen tahun 2000 yang besarnya Rp
3.350/saham.
Sejumlah upaya terus dilakukan. Antara lain dengan memproduksi sepatu yang
mahal. Bata juga tampil di semua segmen menengah dan bawah dan di semua
lapisan masyarakat, baik segmen bapak, ibu, anak, bahkan remaja. Untuk
kategori anak-anak ada merek Bublegummer. Lapisan remaja ada North Star,
Power. Untuk bapak-bapak ada King Street, Weinbreiner untuk yang casual.
Untuk ibu-ibu ada Marie Claire. Berbeda dengan sebelumnya, kini sebagian
besar produk keluaran Bata fashionnya sangat up to date.
Sinergi
Untuk itu diperlukan koordinasi dengan seluruh komponen dalam organisasi.
Yudhi mengaku cukup sulit men-sinergikan semua elemen dalam organisasi dan
menyatukan visi dalam perusahaan. Termasuk bagaimana men-sinkronkan satu
bagian dengan bagian lain. Ia beruntung, dari kantor pusat ada satu sistem
yang standar dan baku. Artinya ada sistem yang menjadi acuan bersama.
Kalaupun ia atau bagian lain mau menyesuaikan sesuai dengan kondisinya,
namun paling tidak ada satu kerangka bersama. Hal ini diakui Yudhi pasti
akan ditemukan di semua organisasi atau perusahaan. Setiap organisasi
pasti ada saja kendala. Namun itulah yang ingin dikurangi, begitu katanya.
Sepatu Bata, ungkap Yudhi, akan berusaha masuk ke semua pelosok masyarakat
dan daerah. Otonomi daerah sekarang memberi peluang bagi Bata, meskipun
ada kendala, Indonesia belum mempersiapkan infrastruktur.
“Kita juga selalu mengikuti zaman. Selalu up to date mengikuti fashion.
Dengan globalisasi perkembangan industri sepatu internasional dengan cepat
masuk ke Indonesia. Kita harus berpacu dengan perkembangan ini,” ujarnya.
Yudhi Komarudin memulai karier di Bata tahun 1991 sebagai Corporate
Secretary dan Tax Manager. Lima tahun di sana, tahun 1997 dirinya kemudian
menjadi salah satu direksi, jabatan yang ia pegang hingga kini.
Keinginannya masuk Bata kala itu, menurutnya karena ia suka organisasi dan
mencoba sesuatu yang lain.
“Saya memang punya target bahwa saya harus bisa mencapai posisi direktur.
Di usia 20 tahun saya sudah kerja, saya katakan pada diri saya, di umur 40
tahun harus menjadi direksi. Kalau tidak, saya akan berhenti menjadi
salary’s man,” begitu ujarnya. Maksudnya, jadi orang gajian.
Dari segi pengalaman kerja, ia cukup lengkap. Dari tahun 1988-1991, ia
menjabat sebagai Finance Administration Manager PT Wisata TrilokaBuana,
salah satu anak perusahaan Mercu Buana Group. Ia juga tiga tahun
(1985-1988) menjadi auditor di PricewaterhouseCooper. Di sanalah dirinya
merasa banyak digembleng.
Sebelum di PwC dirinya menjadi konsultan dan trainer di perusahaan Jerman
yang merupakan konsultan dari Departemen Koperasi yakni tahun 1981-1985.
Di perusahaan tersebut ia banyak belajar mengenai koperasi dan organisasi.
Tak mengherankan, ia tahu persis mengenai prinsip dasar koperasi karena
banyak mengunjungi Koperasi Unit Desa (KUD) di berbagai wilayah di Tanah
Air.
Sejak tahun 1975 Yudhi sudah mulai bekerja sekaligus bersekolah. Jenjang
pendidikan ia tempuh melalui akademi di STEI Indonesia jurusan akuntansi
hingga kini setingkat MBA.
Efisiensi
Mengamati kondisi bisnis di Indonesia saat ini, Yudhi menyayangkan semua
pihak termasuk pengusaha sekarang cenderung mengambil sikap berhati-hati.
Tidak ada yang berani melakukan inovasi dan melakukan terobosan
(breakthrough). Semua pebisnis katanya, sangat berhati-hati dan bersifat
menunggu. Pengusaha luar maupun pengusaha nasional bilang tunggu setelah
Agustus. Nanti setelah itu bilang tunggu setelah Januari. Menurutnya
kondisi ini karena situasi politik tidak stabil. Jadi kuncinya, kalau
politik dan keamanan bisa distabilkan, maka ekonomi pasti stabil.
Sebagai direktur di perusahaan yang senantiasa berupaya menerapkan good
corporate governance, ayah dari tiga anak perempuan ini merasa prihatin
dengan etika pengusaha kita yang melakukan KKN. Sumber semua ini
menurutnya adalah karena kita sudah terlalu lama dididik oleh Belanda
bahwa KKN itu sangat susah, bukan berarti tidak bisa.
“Perlu ada suatu keberanian memutus KKN itu. Karena negara lain bisa .
Negara lain bisa memberantas KKN. Selama KKN itu ada maka saya kira tidak
akan pernah ada persaingan bisnis yang sehat,” katanya.
Sama seperti Sepatu Bata yang menerapkan persaingan keras, menurutnya
semua perusahaan Indonesia harus mampu melakukan efisiensi. Artinya
seberapa pun biaya yang kita keluarkan, kita harus kontrol. Setiap rupiah
yang dikeluarkan oleh perusahaan atau manajemen harus dapat
dipertanggungjawabkan. Itulah motto yang diajarkan oleh pendiri Sepatu
Bata, yang membuat Bata tetap bisa survive dari krisis.
Meski berada dalam lingkungan yang penuh persaingan, dirinya tetap merasa
enjoy, menikmatinya. Ke depan, menurutnya kondisi akan semakin sulit. Ia
mengaku, jalan terjal menantinya dalam upaya membawa Sepatu Bata melaju ke
depan dan tampil menjadi market leader di Indonesia.
Ia sadar betul dengan kultur Bata yang cenderung menapak perlahan namun
pasti. Artinya dirinya atau perusahaan tidak mau mengambil langkah drastis.
Namun paling tidak, ia meyakini, seberat apa pun globalisasi yang ada di
depan, Sepatu Bata harus mampu tetap tampil sebagai leader. Dan kuncinya
adalah mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) sebaik-baiknya.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), dari rudy victor sinaga, Sinar
Harapan
|
|